Pengalaman Mengarungi Sungai Musi

PON XVI

Pengalaman Mengarungi Sungai Musi

- Sport
Selasa, 14 Sep 2004 09:08 WIB
Palembang - Bicara Sumatera Selatan ingatan kita akan melayang kepada pempek Palembang dan Sungai Musi. Pempek sudah sering dinikmati di kota-kota lain, namun nikmatnya mengarungi sungai musi hanya dapat ditemukan di Palembang.Datang ke Palembang seperti tak lengkap bila tidak "mampir" ke Sungai Musi. Sungai yang paling kesohor namanya di Sumatera itu memang objek wisata paling menarik yang ditawarkan ibukota Sumatera Selatan itu selain Jembatan Ampera.Karena penasaran, Minggu (12/9/2004), Detikcom dan beberapa rekan wartawan sempat mencoba mengarungi sungai yang terkenal itu. Perjalanan kami dimulai dari pelabuhan Benteng Kuto Besak.Di depan benteng yang dibangun pada zaman Belanda itu kami menemui seorang nelayan untuk menyewa sebuah perahu yang biasa disebut getek. Setelah menanyakan maksud dan tujuan kami, nelayan yang bernama Samsul itu pun menunjuk perahunya dan menyuruh kami naik ke atasnya.Perahu Bang Samsul sedikit berbeda dengan perahu-perahu lain yang ada didekatnya. Terpal hijau yang menjadi atap dihiasi dengan lampu berwarna-warni. Catnya pun tampaknya masih baru. Namun setelah kami naik dan mulai menyeberang ke sisi lain sungai, baru tampak kalau perahu ini tak beda dengan yang lain: lambat.Setelah mengisi bahan bakar solar, dimulailah perjalanan menggunakan perahu bermesin TS 70 C ini. Dengan kecepatan rata-rata 20 km/jam, Bang Samsul memperkirakan kami akan sampai tempat tujuan kami yaitu Musi II dalam satu jam.Untuk sampai ke Musi II kami harus melalui wilayah Kertapati, Tangga Bantung dan Palembang Jaya. Sepanjang perjalanan di kanan kiri, mata kami menangkap aktivitas yang biasa dilakukan para warga di pinggiran sungai. Ada yang mandi, berenang, bahkan buang hajat.Namun sedikit berbeda dengan pemandangan sungai-sungai di Jakarta, tempat asal kami. Hampir tak ada sampah mengotori sungai ini seperti di Ciliwung. Lalu lalang perahu pun membuat pemandangan Musi lebih semarak.Setelah menempuh lebih kurang 55 menit sampailah kami di jembatan Musi II. Di sini, rencananya kami akan memancing. Namun belum lagi mempersiapkan kail dan umpan mendung tiba-tiba menyergap. Dalam hitungan menit, hujan pun datang dan kami terpaksa harus menepi.Setelah menunggu selama 1 jam, akhirnya kami mulai bersiap memancing. Namun Bang Samsul ketika itu memperingatkan sehabis hujan jangan mengharapkan ikan yang banyak. "Kalau habis hujan, ikan kurang. Paling baik itu melaut pagi hari atau malam," ujarnya.Kepalang tanggung kami pun tetap melanjutkan aktivitas memancing. Di sela-sela memancing, Bang Samsul banyak bercerita soal pekerjaannya sebagai nelayan."Setiap hari saya berangkat memancing ikan sekitar pukul 6 pagi. Di sungai saya bisa menghabiskan waktu hingga habis Maghrib. Namun saat PON seperti sekarang saya melaut pada malam hari sehabis Isya. Soalnya siangnya saya mengantar orang dulu untuk jalan-jalan mengarungi Musi," katanya.Sehari-hari Bang Bang Samsul mengaku lebih banyak memancing ikan untuk konsumsinya sendiri. Jika dijual, hasil pancingannya laku seharga Rp 10 ribu per kilogram. "Menjual hasil tangkapan tak menghasilkan uang yang tetap. Tapi rata-rata saya bisa mendapatkan ikan seberat 7 kg, yang dijual menghasilkan 70 kg," lanjutnya lagi.Penghasilannya itu akan lebih lumayan lagi mengingat buat setiap kapal yang disewakannya kepada orang selama PON ini ia menerima uang sebesar Rp 60 ribu untuk sekali jalan.Asyik mengobrol, tak terasa sudah empat jam kami habiskan di atas kapal. Seperti perkiraan Bang Samsul, kami gagal mendapatkan ikan tangkapan yang besar. Lima ikan patin kecil menjadi hasil pancingan kami hari ini.Seperti ketika memulai perjalanan, kami pun mulai mengarungi rute balik yang sama. Meski sedikit lelah, namun sepanjang perjalanan kami tak bisa berhenti tertawa. Sampai di pelabuhan Kuto Besak, kami mendapati pemandangan yang jauh berbeda dibandingkan saat kami sampai. Ternyata, di sore hari, Benteng Kuto Besak dijadikan tempat gaul para remaja Palembang.Akhirnya kami harus mengakhiri perjalanan. Sesudah menyelesaikan segala administrasi dengan Bang Samsul, kami pun beranjak pergi dari Kuto Besak. "Ternyata asyik juga mengarungi sungai musi." (mel/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads