Mencari Asosiasi yang Ideal untuk Atlet

Masa Depan Atlet di Indonesia (Bagian 5)

Mencari Asosiasi yang Ideal untuk Atlet

- Sport
Rabu, 21 Agu 2013 18:15 WIB
Mencari Asosiasi yang Ideal untuk Atlet
Ilustrasi: ANTARA/M Agung Rajasa
Jakarta - Selama ini nyaris tak pernah kedengaran bahwa ada sebuah organisasi di tanah air yang mewadai para olahragawan. Kalaupun ada, keberadaan mereka dinilai belum bergigi.

Di cabang sepakbola, misalnya, nama Asosiasi Pemain Profesional Indonesia (APPI), cukup populer terutama sejak setahun silam. Namun, sejauh mana mereka telah menjadi representasi yang ideal buat pemain bola di tanah air, masih sering dipertanyakan.

Ketika isu klub-klub menunggak gaji di musim lalu, APPI beberapa kali mengancam akan memboikot kompetisi. Namun, nyatanya ancaman itu tak pernah terjadi, walaupun hingga kini masih banyak klub yang belum membayar gaji para pemainnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Yang menarik, bukan hanya APPI yang ada di sepakbola. Ada pula organisasi bernama Asosiasi Pemain Sepakbola Nasional Indonesia (APSNI), yang konon lebih "direstui" oleh PSSI.

Di luar sepakbola, sebenarnya ada sejumlah asosiasi atlet. Namun kenyataannya belum ada yang benar-benar bisa menyalurkan suara atlet. Nyatanya, tak satupun wadah atlet yang ada bisa mewakili keluh kesah gaji telat atau tak ada dana mengikuti turnamen.

Ikatan Atlet Nasional Indonesia (IANI), misalnya, muncul pada 2007. Wadah itu dipimpin Icuk Sugiarto. Sebagian kalangan atlet mengakui keberadaannya.

"Di sana tempat atlet-atlet nasional menyampaikan permasalahannya. Sangat bagus sih, bisa membantu kita atlet-atlet lainnya. Tinggal sekarang bagaimana efektivitasnya dan perhatian pemerintahnya saja," tutur pelari jarak jauh Triyaningsih.

Di awal pembentukan kiprah IANI memang memebrikan efek signifikan kepada mantan atlet. Para pengurus mampu menyalurkan dana kepada eks atlet yang berprestasi di jamannya. Sayang, kini kegiatan IANI melempem.

Namun para atlet yang pernah mencicipi Olimpiade tak mengakui. Mereka memutuskan untuk membentuk Asosiasi Olimpian Indonesia. Mantan petenis meja Anton Suseno didapuk sebagai ketua.

"Kami tak bermaksud membatasi anggota. Kami ingin atlet mau berprestasi sampai ke Olimpiade dan bisa menjadi anggota kami," kata Krisna Bayu, mantan judoka nasional.

Sejumlah program disiapkan. "Kami ingin mengadakan pelatihan manajemen finansial kepada atlet dalam waktu dekat ini," kata Krisna. Sebab, dia tak ingin atlet Indonesia justru rendah diri dan selalu minta dikasihani.

"Tolonglah atlet-atlet itu jangan hanya menengadahkan tangan. Ayo bersama-sama jaga harga diri sebagai atlet," serunya.

Menurut Krisna, jaminan yang diberikan pemerintah belum tentu tepat bagi atlet, semisal program menjadi PNS (Pegawai Negeri Sipil).

"PNS bisa jadi pilihan pemerintah memberikan reward, tapi saya sendiri tak betah jadi PNS," kata dia.

Krisna lebih suka menjadi pengusaha. Dia pun melepas status PNS dan membuka usaha instalasi pipa di Semarang.

"Kalau memang berprestasi mendunia saya yakin atlet akan lebih mudah menyampaikan suara," kata Krisna yakin.

Selain itu Yayasan Olahragawan Indonesia yang dipimpin Rudi Hartono pun pernah eksis. YOI mencuat saat turut serta dalam mempailitkan Telkomsel awal Agustus tahun lalu. Rudi memilih bungkam saat dimintai konfirmasi kelanjutan YOI.


(fem/a2s)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads