Dinasti Olahraga Indonesia (1)

Mainaky Bersaudara: Meraih Prestasi, Membibit Generasi

- Sport
Senin, 09 Sep 2013 13:23 WIB
Mainaky Bersaudara: Meraih Prestasi, Membibit Generasi
detikSport/Rengga Sancaya

Jika diusut, darah olahraga memang sudah mengalir deras di tubuh Mainaky dan semuanya bermula dari kakek mereka, Weuhelman. Berdarah campuran Jerman dan Belanda, Weuhelman adalah pemain sepakbola. Tujuh bersaudara Maniaky lahir setelah anak perempuan Weuhelman yang bernama Venna menikah dengan Jantje Rudolf Mainaky.

Meski menggeluti sepakbola, Weuhelman justru mendorong cucu-cucunya bermain bulutangkis. Salah satu pendorongnya adalah karena Jantje Rudolf Mainaky menggemari cabang olahraga tepok bulu tersebut.

"Ayah itu orang bilang sportman. Dia itu bisa, atletik dari lempar lembing, tolak peluru lari 200 meter bagus. Voli juga bisa, basket juga bisa. Dia juga seorang musisi dan sekolah bareng Enteng Tanamal," kisah Rexy.

Hobi olahraga Jantje Rudolf Mainaky itu lantas ditularkan kepada anak-anaknya. Lari 12 kilometer menjadi menu rutin setiap hari sementara di akhir pekan ada tambahan lari cross country di Gunung Gamalama. Mainaky bersaudara juga dilibatkan dalam pekerjaan rumah sehari-hari, seperti menimba air dan membangun plafon rumah. Rudy juga memberikan menu wajib yang tak biasa: dia 'memaksa' anak-anaknya memainkan botol bir dengan pergelangan tangan sesering mungkin.

Beragam aktivitas tersebut pada awalnya diterapkan Jantje Rudolf Mainaky demi menghindarkan anak-anaknya dari terjerat pergaulan anak-anak muda Ternate yang doyan mabuk dan berkelahi.

Lapangan bulutangkis dibangun di belakang rumah yang berlokasi di Serunai, Ternate. Garis lapangan tanah dibikin dari bilah bambu. Meja pingpong dibuat agar anak-anak tak keluyuran di luar rumah, tapi justru bisa mengajak teman-teman singgah. Peralatan fitness juga dibuat sendiri.

Jantje Rudolf Mainaky tahu benar kalau bulutangkis adalah cabang olahraga yang punya peluang paling besar mengantarkan anak-anak lebih cepat berprestasi. Atas dasar itulah dia mulai lebih serius mengarahkan Richard dan adik-adiknya ke bulutangkis, bukan sepakbola, tinju atau karate seperti mayoritas penduduk Ternate.

Dukungan untuk menekuni bulutangkis juga didapatkan dari kakek. "Kakek tidak mau kami mengikuti jadi pemain bola. Dia justru sangat mendukung kami ke bulutangkis. Dialah yang merawat lapangan bulutangkis," kata Rexy.

Namun, tak semua anak-anak mengikuti arahan Jantje Rudolf Mainaky. Termasuk Rexy yang sempat condong ke sepakbola. Lapangan bulutangkis di belakang rumah itu justru sering menjadi arena bermain bola. Weuhelman yang tak terima lapangannya rusak sering dibuat marah dan tak segan dia mengguyur anak-anak dengan air seni dari lantai dua.

Dari tujuh bersaudara keluarga Maniaky, cuma Marinus (anak pertama) Valentina (anak keenam) yang tak bermain bulutangkis. Sementara lima lainnya benar-benar tumbuh dan menghabiskan waktunya di cabang olahraga tersebut. Pilihan itu terbukti tidak salah karena mereka masing-masing memiliki cerita sukses sendiri. Kisah yang kini menjadi dongeng di cafe-cafe sampai warung kopi tubruk pinggir jalan.

(fem/din)