Dinasti Olahraga Indonesia (5)

Generasi Sepakbola dalam Keluarga: Antara Kebanggaan dan Harapan

- Sport
Senin, 09 Sep 2013 20:59 WIB
detikSport/Rengga Sancaya
Jakarta - Tak banyak kisah pesepakbola nasional yang memiliki anak yang kemudian juga merintis karier di atas lapangan hijau. Pada anaknya Andro Levandy dan Adixi Lenzivio, Adityo Dharmadi menyimpan kebangaan dan harapan.

Adityo Dharmadi adalah salah satu anggota skuat Merah Putih saat berhasil menduduki posisi empat Asian Games 1986 di Seoul dan merebut emas di SEA Games 1987. Belasan tahun setelah menggeluti sepakbola dia kini menjadi pegawai di Jamsostek.

Tapi seperti mantan pesepakbola lainnya, Adityo tak pernah sepenuhnya bisa lepas dari olahraga yang membesarkan namanya itu. Apalagi dua anaknya Andro Levandy dan Adixi Lenzivio kini juga berkarier sebagai pesepakbola. Andro memperkuat PS Sumbawa Barat di Divisi Utama Liga Indonesia, sementara adiknya Adixi Lenzivio (21 tahun) kini memperkuat Persija Jakarta U-21 dan berposisi sebagai kiper

Tak seperti cabang olahraga lain, di Indonesia tak banyak pesepakbola yang menurunkan profesinya ke anak. Selain Adityo, nama Rully Nere juga menjadi salah satu pasangan bapak-anak yang berprofesi sebagai pesepakbola. Putra Rully, Mitchel juga menjadi pesepakbola.

"Karena jarang ada anak seorang pemain sepakbola yang juga jadi pesepakbola, maka saya punya satu kebanggaan tersendiri," ucap Adityo dalam perbicangan dengan detikSport.

Helena juga tak kalah bangga. Saat ngumpul-ngumpul sesama istri pensiunan pemain bola, dia sering kali mendapatkan selamat dari teman-temannya. Malah tak sedikit yang menunjukkan harapan serupa.

"Dinda Darmawan (istri Rahmad Darmawan, Red) salah satunya. Dia pernah bilang, senang ya anaknya ikut jadi pemain bola," kata Helena.

Setelah anak-anaknya sudah sukses mencapai prestasi di level junior, Adityo berharap kedua putranya bisa menuai prestasi yang lebih tinggi dari.

"Harapannya mereka bisa mengukir prestasi lebih tinggi dari yang pernah saya raih. Si kakak sudah hampir masuk timnas, tapi gagal karena mengalami cedera," ungkap Adityo.

Sadar dengan mimpi Adtiyo, Andro dan Adiksi tak merasa terbebani.

"Pelatih tidak melihat latar belakang kami putra atau cucu siapa. Performa di lapangan menjadi penilaian utamanya. Tapi, hal itu malah menjadi motivasi yang lebih buat kami agar bisa berprestasi lebih tinggi," jelas Adixi.

===

Artikel sebelumnya:

Dinasti Olahraga Indonesia (Bagian 1): Mainaky Bersaudara: Meraih Prestasi, Membibit Generasi

Dinasti Olahraga Indonesia (Bagian 2): Gagang Sapu yang Melanjutkan Dinasti Angkat Besi Nasution

Dinasti Olahraga Indonesia (Bagian 3): Sandow Mendobrak Gaya Kuno Lifter Nasional

Dinasti Olahraga Indonesia (Bagian 4): Harry Tjong dan Dua Generasi Sepakbolanya




(fem/din)