Dinasti Olahraga Indonesia (6)

Radja Nasution dan Raja-raja Kolam Renang Indonesia

- Sport
Selasa, 10 Sep 2013 13:20 WIB
detikSport/Rengga Sancaya
Jakarta - Di pinggir kolam renang dari atas kursi rodanya, Radja Murnisal Nasution masih penuh semangat memberi instruksi pada murid-muridnya. Sesekali dia mengayun kedua tangannya, memberi contoh agar diikuti.

Di usianya yang sudah 64 tahun dan penyakit yang terus menggerogoti, Radja sama sekali tak terlihat lelah. Sebaliknya, semangat hidupnya masih terlihat membara, passion-nya pada renang tak padam. Perenang-perenang cilik yang jadi siswa di perkumpulan renang Pari Sakti milik Radja pun tekun menyimak perintah-perintahnya.

Salah satu murid yang dibimbing Radja memakai kostum berwarna merah muda kombinasi hitam. Namanya Neeve Jasmine Latifah Adam, dia cucu Radja, anak dari Kevin Rose Nasution.

"Saya ingin jadi perenang. Jadi atlet itu kayaknya enak," kata Neeve. Karena keinginan besar itu, Neeve lah yang selalu nagih kepada mamanya, Kevin Nasution, untuk diantar ke kolam renang. Neeve pun menjadi penerus 'klan' Nasution di kolam renang.

Disebutkan Neeve, di sekolahnya SMP Muhammadiyah 8 Jakarta tak ada ekstra kurikuler renang. "Yang ada cuma ekstra kurikuler futsal dan basket. Aku sih sudah minta kepada gurunya karena kalau ada perlombaan biar bisa mewakili sekolah," kata Neeve.

Ibunda Neeve, Kevin, yang adalah putri keempat Radja, tak menyangka anaknya tertarik dengan renang. Sebab, dia tak pernah memaksa putri sulungnya itu untuk mengikuti jejak keluarga besarnya.

Keluarga Nasution sudah terlanjur identik sebagai raja kolam renang. Elfira Rosa Nasution, Maya Masita Nasution, Elsa Manora Nasution, dan Kevin Rose Nasution serta si bungsu Muhammad Akbar Nasution menjadi perenang handal di persaingan nasional. Mereka juga acapkali menjadi tumpuan 'Merah Putih' di ajang internasional.



Padahal Radja bukanlah lahir dari keluarga atlet. Ayahnya polisi.

"Dulu di Medan tidak ada aktifitas olahraga, sedangkan rumah saya dekat kolam renang jadi ikut saja coba renang kemudian saya suka," cerita Radja pada detikSport.

Meski awalnya hobi, Radja kemudian memutuskan untuk serius menekuninya dan tak mau main-main. Dia tertantang mengembangkan renang di Medan. Bahkan saat dia harus hijrah ke Jambi. Kebetulan kelima anaknya kompak menjadi perenang. Makin mudahlah dia membuka jalan untuk mengembangkan renang.

Kini Radja bersuka cita karena cucunya rajin mengikuti latihan di klub binaannya. Radja senang nama besar Nasution yang sudah dibangunnya punya penerus. Dia juga senang karena Neeve sanggup melahap menu latihan yang diberikan seorang pelatih sangar seperti dia.

"Program latihan opa berat karena ada sprint-nya. Tapi kadang-kadang enak juga," kata dia.

Neeve juga sudah merancang rencana untuk serius di renang. Dia memasang target tinggi untuk tampil di Olimpiade. Tak hanya mengejar prestasi tapi juga bisa bersaing dengan idolanya di ajang multieven empat tahunan itu.



Ya, Radja benar-benar bersuka cita karena Neeve lah yang meminta untuk serius berlatih renang. Radja tak bisa menutupi hati kecilnya yang selalu berharap akan ada penerus yang mewarisi renang di kemudian hari.

"Saya itu menekuni olahraga, berprestasi di olahraga karena ada tantangannya. Mereka bisa dapat beasiswa sampai ke luar negeri. Saya sudah dapatkan. Jadi saya menyebarkan informasi yang positif kepada pada mereka, bukan menggambarkan hanya duit melulu. Kesempatan yang kita dapatkan dari hasil renang itu juga positif, tidak soal uang," tuturnya lagi.

Janji Radja tidak salah. Dari renang anak-anaknya bisa mencicipi sekolah di Amerika Serikat. Elfira lebih dulu merasakan jadi mahasiswa desain interior California State University. Yang terakhir, Akbar yang juga lulusan Chaffey College.

"Sekarang malah tak perlu ragu-ragu, banyak pihak yang siap memberikan apresiasi jika ada prestasi yang menonjol," tegasnya.

"Masih banyak orang tua yang menganggap atlet bukan suatu pekerjaan, tapi jaman sekarang dengan melihat apa yang sudah didapat, itu sudah jadi profesi. Pertama perenang bisa mendapatkan biaya hidupnya sendiri, bisa upgrade prestasi, bisa belajar di luar negeri, jadi banyak keuntungannya," timpal Kevin.

Radja juga berharap klub Pari Sakti yang dibangun sejak 16 Agustus 1996 tak bubar dan terus bersaing di tingkat nasional. Klub tersebut sudah berprestasi dengan meraih gelar juara umum pada 2002 lampau pada kejuaraan renang antarperkumpulan setanah air, dan kini dipercayakan pada Akbar. Sementara Kevin menjadi salah satu pelatihnya.

"Dulu saya membangun sendiri klub itu. Kami menyewa kolam dan membayar gaji pelatih. Waktu itu anggotanya 20 orang, sekarang sudah ratusan. Sudah remaja juga klub ini, sudah 17 tahun," kata dia.

Elsa juga tidak bisa jauh dari kolam renang. Dia menjadi pelatih, hanya saja dia mengkhususkan diri ke latihan privat. "Siapa tidak senang apa yang sudah dibangunnya di masa lalu diteruskan anak-anak dan cucunya," kata Radja.







===

Artikel sebelumnya:

Dinasti Olahraga Indonesia (Bagian 1): Mainaky Bersaudara: Meraih Prestasi, Membibit Generasi

Dinasti Olahraga Indonesia (Bagian 2): Gagang Sapu yang Melanjutkan Dinasti Angkat Besi Nasution

Dinasti Olahraga Indonesia (Bagian 3): Sandow Mendobrak Gaya Kuno Lifter Nasional

Dinasti Olahraga Indonesia (Bagian 4): Harry Tjong dan Dua Generasi Sepakbolanya

Dinasti Olahraga Indonesia (5): Generasi Sepakbola dalam Keluarga: Antara Kebanggaan dan Harapan




(fem/din)