Waktu menunjukkan pukul 12.00 WIB, saatnya santap siang. Di lantai tiga hotel, berbagai menu prasmanan sudah tersedia dan tertata rapi untuk para atlet pelatnas Indonesia untuk SEA Games 2013.
Ridha Wahdaniyaty bergegas menuju ruang makan. Atlet gulat itu kemudian memilih beras merah berikut lauknya: dua potong ayam, sup bahari, plus tahu pong enam buah.β¨β¨
"Kebetulan suka tahu, jadi ngambilnya agak banyak," kata Ridha saat ditemui detiksport di ruang makan Hotel Atlet Century Park, Senayan, Jakarta, Senin (23/9/2013) kemarin.β¨β¨
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski begitu, aku Ridha, jumlah kalori dari porsi makanan itu sudah dikurangi. Beberapa kebiasaan mengonsumsi suplemen seperti madu, kurma, dan multivitamin juga mulai dihilangkan lantaran ia harus menurunkan berat badan menjadi 59 kilogram, dari yang biasanya 63 kilogram. Sebabnya, nomor spesialisasinya tidak dipertandingkan di SEA Games mendatang di Myanmar.β¨
"Ada makanan tambahan itu dari Herbalife saja. Selebihnya makan makanan sehari-hari yang ada di hotel. Soalnya makan hotel juga sudah terpenuhi sih gizinya, tinggal pintar-pintarnya kita saja. Catatannya dari ahli nutrisi KONI 'kan sudah ada, kita juga sudah belajar. Jadi bisa perkirakan, misalnya secentong berapa kalori," terangnya.β¨β¨
Ia tak memungkiri bahwa kadang-kadang tergoda dengan menu makanan lain, baik di hotel maupun di luar hotel.
"Apalagi kalau hari libur, lihat makanan di luar itu 'kan enak-enak banget ya," ucapnya sambil tertawa.β¨β¨
Namun, bungsu dari lima bersaudara ini punya alasan yang logis mengapa dirinya enggan makan di luar. Selain kandungan gizi kurang terjamin, uang saku juga menjadi kendala lain.
"Sebenarnya tidak dilarang makan di luar, tapi atletnya 'kan harus sadar diri juga. Atlet itu ibarat seperti spanduk itu," kata Ridha seraya menunjuk spanduk berukuran 300 cm x 60 cm bertuliskan "We Are What We Eatβ.β¨β¨

"Di sini, kita itu apa yang kita makan. Dari situ kita bisa mikir, setelah kita makan sesuatu, bakal jadi apa makanan itu di badan kita. Kalau makanannya sehat, kitanya juga sehat. Kalau makan gorengan dipinggir-pinggir gitu, ternyata kena polusi atau apa, ya bisa jadi sakit juga," jelasnya.β¨β¨
Menjadi atlet profesional seperti dirinya memang harus siap pula menghadapi konsekuensi-konsekuensi. Dalam hal makanan selama di pelatnas, misalnya, kejenuhan menu tentu sesuatu yang normal.
"Maklum lah kalau ada teman-teman yang merasa bosan juga. Tapi ya itu risikonya. Selain kesehatan, kalau mau makan di luar ya harus keluar uang sendiri. Padahal keadaan kita masih pas-pasan, karena gaji 'kan belum turun juga. Tapi kalau di hotel 'kan tidak. Jadi syukuri saja yang ada,β ujarnya.β¨β¨
Senada dengan Ridha, atlet kempo Anastasia Brenda, juga mengungkapkan hal yang sama. Siswi SMA 3 Cibinong, Bogor ini mengaku hanya sesekali saja makan di luar.
"Ya kalau bosan saja (makan di luar). Tapi sebenarnya kalau dari segi nutrisi gizi, lebih cukup di sini (hotel)," kata Brenda dalam kesempatan terpisah.β¨β¨
Demikian halnya dengan atlet kempo, Nur Indah Ekayanti. Peraih emas Kejuaraan Dunia, di Osaka Jepang, Agustus lalu ini mengaku tak selalu menyantap makanan yang disediakan hotel tempat menampung para atlet pelatnas itu.
"Saya sendiri terus terang tidak suka dengan menu makanannya. Bosan juga, Mbak. Makanya suka makan diluar," kata Indah.β¨

Dari pihak Hotel Century, Athlete Floor Manager, Sobirin, mengatakan, mereka hanya sebagai fasilitator. Adapun pilihan menu, standar nutrisi, dan jumlah kalori yang dibutuhkan semua atas rekomendasi KONI.β¨β¨
"Kami hanya fasilitasi saja, mau makan apa, kami sediakan. Tapi kalau untuk standar gizi, berapa nutrisi yang dibutuhkan, jumlah kalori, itu atas rekomendasi dokter di KONI," kata Sobirin ketika ditemui di ruang kerjanya di lantai dua.β¨
Namun sejauh ini, menurut dia, makanan yang disediakan sudah memenuhi kebutuhan atlet. Ia mencontohkan, nasi merah.
"Disiapkan nasi merah baru sekitar bulan Juni-Juli, itu juga karena ada permintaan dari atlet. Jaddi sebenarnya apa yang dibutuhkan atlet sudah ada di sini."β¨β¨
Dikatakan dia, setiap 11 hari pihaknya melakukan perputaran menu dengan beberapa pilihan makanan yang lebih variatif agar atlet tidak merasa bosan dengan menu yang ada.β¨
Pagi hari, contohnya, dia dan anak buahnya menyiapkan roti tawar dengan tambahan aneka selai untuk sarapan. Bagi yang ingin makan makanan berat, disiapkan pula nasi putih, sup sayuran, daging srundeng, dan telur rebus. Sementara untuk tambahannya ada kerupuk, kecap dan sambal, serta buah-buahan.β¨β¨
Di siang hari, ada nasi merah dan putih, sup bahari, ayam goreng mentega, cah ciwis, tahu pong, kerupuk, sambal, Β buah, kopi dan teh. Untuk malam ada nasi putih, gado-gado lontong, orak arik tempe, kakap goreng tepung, telur asin, kerupuk, kecap sambal, buah, kopi, dan teh.
"Coba bayangkan jika semua menu ini makan di luar, berapa jumlah biaya yang harus dikeluarkan. Sementara di hotel ini, dengan biaya 200 ribu nett, sudah dapat makan pagi, siang, dan malam dengan menu tersebut," ungkap Sobirin.β¨β¨
Ia menambahkan, hotel juga menyiapkan dua dining room yang terbagi di dua lantai, lantai dua dan tiga. Masing-masing dining room terdiri dari 130 kursi berikut mejanya.
"Sejauh ini dengan jumlah meja dan kursi yang ada, belum pernah ada atlet yang berdiri. Mereka semua kebagian tempat. Lagi pula, jam latihan atlet beda-beda, jadi makannya juga suka gantian," terangnya.β¨β¨
Selain meja dan kursi yang cukup untuk para atlet, pihaknya juga menyiapkan satu unit televisi yang bisa dipakai bersama para atlet ketika mereka sedang menyantap makanan.β¨β¨
"Untuk televisi memang sudah kesepakatan kami dengan KONI hanya ditaruh di ruang makan. Di kamar itu tidak ada, supaya atlet lebih fokus," katanya.

(mcy/a2s)











































