Salah satu target yang luput didapat pada Asian Games 2014 adalah emas di cabang equestrian. Sekretaris Jenderal Equestrian Federation of Indonesia (EFI) menyebut KOI harus bertanggung jawab atas hasil tersebut.
Kontingen Indonesia harus menelan pahit usai hasil buruk pada Asian Games Incheon, Korea Selatan, 19 September- 4 Oktober Kemarin. Dari sembilan medali emas yang ditargetkan, Indonesia hanya berhasil meraih empat. Dengan raihan itu Kontingen Merah Putih terpuruk ke posisi 17 Asia.
Tak hanya itu, sembilan cabang olahraga yang diproyeksikan untuk meraih medali emas bahkan hampir semuanya gagal. Salah satunya cabang equestrian yang sebelumnya diprediksi bakal meraih medali emas di nomor team dressage.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Salah satunya soal pengiriman kuda yang menghabiskan dana 1,1 miliar. Meskipun nominal itu masih belum termasuk pembayaran perawat kuda dan dokter yang biayanya tidak murah karena untuk biaya per harinya dibutuhkan sekitar 250 Euro. Itu belum termasuk biaya empat orang perawat kuda 800 Euro per hari dan 160 USD per hari untuk biaya satu orang dokter.
Dia juga tidak ingin menyalahkan Satlak Prima- Organisasi yang mengurusi berbagai hal persipan atlet menjelang ajang multicabang itu - karena mereka telah mengusahakan agar dirinya tetap ikut dalam rombongan kontingen.
Namun keberangkatannya ke Korea Selatan tidak disetujui KOI. Padahal Tion harusnya masuk dalam kontingen Indonesia ke Incheon karena statusnya sebagai manajer timnas equestrian.
Sayangnya di detik-detik terakhir jelang keberangkatan, nama Tion di coret oleh KOI- dan digantikan oleh Koordinator cabang Akurasi, M Asik. Alasannya, KOI tidak senang karena Tion pernah menjadi saksi dalam kasus perseteruan antara KONI-KOI di Mahkamah Konstitusi.
Tapi KOI beralasan dicoretnya Tion lantaran EFI belum terdaftar sebagai anggota KOI. Padahal, pada SEA Games 2011 di Jakarta, EFI adalah penyelenggara resmi perlombaan berkuda yang diselenggarakan di Depok.
Hal inilah yang dianggap Tion sebagai biang keladi kegagalan equestrian mencapai target. βKalau menurut saya KOI yang harus bertanggung jawab atas hasil ini. Karena KOI lebih merasa lebih punya power di sana dan lebih mementingkan arogansinya ketimbang kepentingan bangsa,β sahut Tion ketika ditemui di kawasan Senayan, Senin (6/10/2014).
Satu contoh kasus yang akhirnya tidak mencapai target adalah pada saat kuda Ferry yang melewati batas waktu masuk ke dalam arena perlombaan. βPara atlet itu diberi waktu 45 detik untuk memasuki arena perlombaan. Sayang, Ferry melebih waktu yang ditentukan. Karena pada saat kuda Ferry masuk justru banyak penonton yang masih masuk,β ceritanya.
"Sebenarnya kita bisa protes tapi kebetulan manajernya tidak tahu. Tapi bukan saya lebih ngerti juga, tapi kebetulan saya berkecimpung di berkuda. Jadi lebih tahu," sahutnya.
"Makanya kalau mau ditanya siapa yang perlu disalahkan adalah KOI, tapi bukan orang berkudanya," simpulnya.
(mcy/din)











































