Sarana Olahraga Tak Berkembang, Koordinasi Antarlembaga pun Tak Jalan

Sarana Olahraga Tak Berkembang, Koordinasi Antarlembaga pun Tak Jalan

Mercy Raya - Sport
Kamis, 25 Jun 2015 19:43 WIB
Jakarta - Prestasi Indonesia di kancah multievent internasional terus merosot. Ketua umum Komite Olimpiade Indonesia (KOI) Rita Subowo merasa prihatin karena Indonesia yang sudah tertinggal dari segi sarana dan prasarana olahraganya.

Setelah finis di peringkat keempat di SEA Games 2013, tahun ini posisi Indonesia malah turun ke posisi lima di Singapura. Padahal 2011 Indonesia mengecap status juara umum saat menjadi tuan rumah.

"Prihatin. Saya tidak malu dengan negara saya sendiri. Saya harus optimistis bisa bangkit. Tapi saya prihatin dengan keadaan yang sekarang karena sudah ketinggalan dari semuanya," kata Rita usai melakukan evaluasi dengan Menpora, KONI, ketua Kontingen, dan sejumlah cabang olahraga di Kantor Kemenpora, Jakarta, Kamis (25/6/2015).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Beberapa pokok persoalan dari mulai sarana dan prasarana yang jauh tertinggal hingga koordinasi yang kurang dengan pengurus cabang olahraga dan Satlak Prima disebut KOI menjadi salah dua kendala mengapa Indonesia kembali gagal.

"Singapura dapat 23 medali emas di kolam renang, tapi Indonesia cuma satu karena tidak punya indoor swimming pool. Indonesia negara panas, jam 11 siang sampai 4 sore sudah panas sekali. Bagaimana mau latihan. Coba tertutup swimming pool-nya. Mungkin (saja bisa)," katanya.

Koordinasi antarlembaga terkait juga disebut-sebut sebagai penyebab, termasuk KONI-KOI serta induk cabang dengan Satlak Prima.

"Kegagalan Indonesia di SEA Games ini tidak lepas dari konflik KOI dan KONI, hingga akhirnya berdampak pada pecahnya PB dan atlet," cetus ketua Satlak Prima, Suwarno.

"Selama ini koordinasi kita memang kurang. Tapi komunikasi kami adalah dengan PB dan Prima, tidak dengan KONI. Dan harus diingat juga, jangan dibalik. Bisanya Indonesia ikut SEA Games, Asian Games itu karena ada NOC, ada KOI. Dan KOI selalu mengajak dan berkoordinasi. Jadi bukan mau sendiri. Ini tidak bisa," ungkapnya.

β€œPendekatan untuk menghilangkan dualisme? Di SKN 'kan sudah jelas tugas fungsinya masing-masing, tinggal dilaksanakan saja. Cuma sekarang kita kesulitan untuk menarik mereka ikut rapat ke sana (IOC) karena masih pakai ring lima. Sebenarnya bisa gabung, tinggal kemauan dari KONInya saja.”

Hal ini juga menjawab pertanyaan Ketua Umum KONI Tono Suratman yang tidak mendapatkan akreditasi SEA Games Singapura 2015. "Di surat itu sudah jelas bahwa Presiden dan Sekjen KONI tidak berhak mendapat ID card selama pakai lima ring. Jadi bukannya tidak mau, tapi kami memfasilitasinya dengan menggunakan tiket," pungkasnya.

(mcy/a2s)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads