Didapuk sebagai kepala kontingen Olimpiade Rio de Janeiro 2016, Ketua PB ISSI Raja Sapta Oktohari memiliki tugas berat di depan mata. Kini dia pun siap berkomunikasi dengan cabor-cabor yang ada demi memudahkan kerjanya.
Tak hanya soal memuluskan target dua emas dari pemerintah, Oktohari juga diharapkan bisa mencari solusi setiap kendala anggaran dan peralatan yang datang jelang multievent.
Sudah menjadi rahasia umum anggaran dan peralatan latihan dan tanding menjadi momok jelang multievent. Dimulai dari SEA Games 2013, Asian Games 2014, sampai SEA Games 2015, hal-hal klasik itu kerap menghantui perjalanan atlet dan pelatih.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ya, Raja Sapta Oktohari kemarin resmi menjadi Chief de Mission (CdM) kontingen Indonesia di Brasil tahun depan. Okto -begitu ia disapa- mengaku siap dengan tantangan yang diberikan, meski ia tahu bahwa menjadi kepala kontingen tak akan mudah.
"Tugas berat ya, tapi kita masih punya waktu panjang sampai 2016, banyak hal yang masih bisa kita lakukan," kata Okto kepada detikSport, Minggu (29/11/2015).
Berbagai rancangan, dikatakan pria berusia 40 tahun ini, sudah ada di dalam benaknya, dan akan direalisasikannya dalam waktu dekat. Salah satunya melakukan kunjungan ke cabor-cabor proyeksi Olimpiade dan komunikasi dengan pihak-pihak terkait.
"Saya sudah langsung berkomunikasi dengan mantan-mantan CdM dulu. Nah, dalam waktu dekat saya akan datangi atlet, cabor, karena ini tanggung jawabnya berat,"
"Memang pengalaman-pengalaman yang lalu itu ada lebihnya dan kurangnya. Lebihnya ini bisa dijadikan tambahan buat saya, kurangnya jadi pengalaman untuk saya ke depannya. Intinya semua dijadikan referensi dalam kita bertugas," ungkap promotor tinju dan Formula Drifting Mahkota Promotion ini.
Hal lain yang juga menjadi fokusnya saat ini adalah menciptakan sebuah kreativitas-kreativitas dimana ke depannya atlet hanya memikirkan pertandingan saja bukan hal-hal lain.
"βYang utama tentu soal anggaran pasti akan kami dorong. Kami akan gunakan berbagai kreativitas agar semua pihak mendukung. Tentunya dengan cara melakukan komunikasi dengan semua pihak. Ingat atlet-atlet ini bukan hanya bawa nama cabangnya sendiri tapi nama bangsa Indonesia."
Okto juga berencana melakukan sosialisasi sekaligus pertemuan sosialisasi dengan para stakeholder dan pemerintah, baik perorangan maupun institusi. "Dengan begitu semua pihak maupun instrumen bisa terlibat dalam bentuk apapun, moral maupun moril," imbuh dia.
Begitu soal birokrasi, Okto melihat semua merespon dengan positif. "Cukup positif dari pemerintah, KOI, KONI, artinya semua punya harapan tinggal mewujudkannya menjadi kenyataan. Saya ini hanya sebagian kecil dari para atlet," ungkapnya.
Lantas bagaimana soal target?
β"Saya belum bisa bikin target karena belum bisa komunikasi cabor," tutup dia.
(mcy/mrp)











































