Tak Hanya Kritik, Masyarakat Gelar Sayembara Independen Maskot Asian Games

Tak Hanya Kritik, Masyarakat Gelar Sayembara Independen Maskot Asian Games

Femi Diah - Sport
Jumat, 01 Jan 2016 08:59 WIB
Tak Hanya Kritik, Masyarakat Gelar Sayembara Independen Maskot Asian Games
Jakarta -

Setelah menyatakan kekecewaan terhadap desain maskot Asian Games XVIII/2018, tindakan nyata dibuat sejumlah desainer tanah air. Founder hellomotion dan Kementerian Desain Republik Indonesia Wahyu Aditya membuat sayembara independen.

Maskot Asian Games, Drawa, memang terus dibanjiri kritik. Desainnya yang kaku dan jadul disebut-sebut jauh dari rupa cenderawasih, tapi dinilai lebih mirip ayam.

Kurator seni dan desainer tanah air meminta agar maskot diperbaiki. Pemerintah menyambut dengan baik dengan berlapang dada untuk melakukan perbaikan maskot dengan menggandeng pihak profesional.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hellomotion yang mempunyai pengalaman panjang menggarap logo dan desain meramaikan dengan membuat sayembara independen yang diumumkan lewat Hellomotion.com. Ada hadiah yang ditawarkannya. Adit--sapaan karib Wahyu Aditya--menyebut langkah itu diambil sebagai bentuk kontribusi terhadap penyelenggaraan Asian Games.

"Daripada kami cuma menghujat atau mencela, kami juga memberi ruang untuk masyarakat guna berkontribusi. Ini bukan mengkritik tapi alternatif solusi. Ini bentuk kontribusi kami sebagai rakyat Indonesia. Minimal meramaikan," kata Adit dalam perbincangan dengan detikSport, Jumat (1/1/2016).

"Keputusan pemerintah untuk tidak membuat sayembara tapi menggandeng komunitas kreatif tak masalah. Kami menyambut baik karena cara itu yang lebih cepat. Mereka pasti mempunyai deadline, ada timetable yang sudah fix. Kami sebagai publik yang tidak tahu timetable mereka turut merayakan. Ini bentuk ekspresi publik. Hadiahnya juga enggak seberapa."

"Dari hellomotion memang selalu memberi ruang untuk berkreasi. Ini bukan sayembara formal, tidak berharap banyak ribuan yang ikut. Kami memberi ruang saja karena kami menyadari saat ini masyarakat sudah melek teknologi, sudah banyak prosumer--fenomena yang orang-orang punya hobi bervisual, tapi bukan profesional."

"Sejak awal kami menyebut kalau ini tidak ada hubungannya dengan panitia Asian Games atapun pemerintah. Hasil dari sayembara ini setidaknya bisa membuat pemerintah dan panitia Asian Games punya banyak pilihan, tidak satu atau cuma dua. Biasa kan muncul kejutan-kejutan dari sayembara seperti ini. Terbuka. Tidak hanya Jakarta sentris," jelas dia.

(fem/cas)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads