Raja Sapta Oktohari tak ingin Indonesia menyambut Olimpiade 2016 Rio de Janeiro ini dengan biasa-biasa saja. Berikut curahan hati (curhat) Okto terkait tugas barunya dan tahun-tahun sibuk olahraga Indonesia.
Okto membuat langkah baru sebagai Chef de Mission Olimpiade 2016. Janji Rp 100 juta untuk para peraih tiket Olimpiade, juga ajakan kepada masyarakat untuk mendukung atlet yang tengah bertanding, baik lewat doa ataupun donasi.
Dengan gaya santai dia membeberkan rencana-rencana yang disusunnya untuk kontingen Indonesia ke Brasil, sulitnya birokrasi yang mau tak mau dijalankannya di markas Detikcom pada Kamis (4/2/2016). Dia juga menuturkan tentang persoalan-persoalan klasik di olahraga yang mau tak mau juga dihadapinya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
DetikSport (D): Anda membentuk Tim 12 yang fungsinya untuk membantu pekerjaan CdM. Bisa dijelaskan?
Okto (O): Jumlahnya ada 12 orang. Tapi belum bisa disebut karena masih entry by number. Latar belakang mereka cuma satu, mereka peduli sama prestasi atlet Indonesia. Tapi tentu berjalannya waktu, orang-orang yang masuk dalam tim ini akan berganti karena saya tidak bisa memaksakan juga kebutuhan mereka berbeda-beda. Mungkin hanya bisa membantu di Indonesia, karena di Brasil harus full satu bulan. Yang jelas semua akan terseleksi dalam waktu beberapa bulan.
D: Anda dan tim 12 juga sudah melakukan sejumlah kunjungan ke beberapa cabang proyeksi Olimpiade. Bagaimana hasilnya?
O: Banyak hasil temuan. Seperti Maria (Natalia) Londa (atlet atletik yang berlatih di Bali) yang latihan di parkiran, lalu voli pantai yang ternyata pasirnya tidak diganti dari tahun 1997. Begitu pula panahan yang sedang galau dengan lokasi latihan kalau GBK dibongkar. Mereka tidak tahu pindah kemana. Banyaklah dinamikanya. Di samping saya sendiri sebagai Ketua Umum PB ISSI yang masih mempunyai PR untuk meloloskan pebalap ke Olimpiade.
D: Apakah solusinya selalu rumit sampai masalah-masalah itu dibiarkan berlarut-larut?
O: Kami yakin kepedulian itu masih ada. Saat saya melihat Maria Londa yang latihan di halaman parkir daerah Kuta, saya langsung berkoordinasi dengan DPRD Bali dan mereka mau membantu. Prinsipnya kalau semua optimistis pasti mendapatkan hasil yang maksimal.
D: Di antara cabang-cabang olahraga itu manakah yang paling siap menghadapi Olimpiade?
O: Angkat besi dan bulutangkis (mereka paling siap). Ya, ini kembali lagi kepada cerminan pengurus cabang olahraganya. Artinya, kalau orangnya optimistis itu akan berdampak pada atlet. Nah ini kami mengimbau kepada semua pihak agar harus optimistis. Jangan setengah-setengah dan jangan lagi cengeng. Gara-gara tidak punya ini atau itu, jadi pesimistis. Sebenarnya Indonesia ini duitnya banyak, cuma sering dicuri saja sama penjahat-penjahat he he he.
D: Tapi selama ini sikap optimistis (selalu) tidak didukung. Misalnya perlengkapan dan peralatan latihan yang datang tepat waktu?
O: Makanya semua harus optimistis semua. Kalau tim CdM optimistis, Satlak Prima, Kemenpora juga, sampai Presiden optimistis, tidak ada masalah perlengkapan itu.
D: Bagaimana dengan birokrasi yang jelimet. Sebagai CdM bagaimana Anda mengurai itu?
O: Memang ini masalah klasik yang kita pernah alamai saat SEA Games, mulai Juni datangnya bulan Juli. ini Fakta. Ini tidak boleh terjadi lagi di Olimpiade. Kami komunikasi dengan KOI, Kemenpora, maupun Komisi X, supaya bisa dikawal, bahkan teman-teman Komisi X itu komitmen untuk ini.
D: Kapan target Anda perlengkapan dan peralatan latih tanding atlet Olimpiade keluar?
O: Saya harus cek dulu. itu domain satlak prima.

D: Sebulan menjabat sebagai CdM, apa Anda terkejut dengan situasi olahraga yang (ternyata) rumit itu?
O: Prosesnya (saya ditunjuk menjadi CdM) saja sudah rumit. Meski begitu saya langsung jawab iya. Cuma waktu itu saya berpikir siapa ini teman-teman yang bisa saya ajak gabung di tim. Harusnya juga ini bisa dimanfaatkan bukan hanya sekadar pelayan atlet, tapi untuk melakuka kegiatan yang lebih menantang.
D: Dengan waktu yang tersisa enam bulan, menurut Anda peluang cabang olahraga yang tersisa untuk raih tiket seperti apa?
O: Belum bisa dijawab karena masih dalam proses perjuangan. Misalnya tinju, mereka baru berangkat pra kualifikasi di China bulan Juni atau atletik nomor lomba estafet juga belum.
D: Bisa dijelaskan dari mana saja sumber anggaran CdM?
O: Sumber pertama dari APBN dan yang kedua dari fundraising. Nantinya, APBN sepenuhnya akan diberikan kepada atlet saja. Jadi saya tidak mau ikut-ikutan, misalnya karena saya CdM lalu dipaksa korupsi. Apalagi kalau datang meminta jatah. Tidak sama sekali. Bagi saya bekerja menjadi CdM sudah mengorbankan waktu, keluarga, dan pekerjaan. Ini adalah kerelaaan yang kita lakukan dan saya sama sekali tidak memberi ruang pada siapapun untuk intervensi pekerjaan ini dan untuk mengambil keuntungan sendiri. Makanya, atlet yang sudah dapat tiket Olimpiade diberikan uang apresiasi Rp 100 juta, dan mereka akan berangkat menggunakan pesawat kelas bisnis.
D: Itu anggaran APBN?
O: APBN. Karena itulah fungsi APBN. Kalau tidak bisa, kami akan carikan lagi lewat kegiatan lain. Saya nothing to lose dan tidak punya kepentingan di sini. Kami semua bangga kalau Indonesia mendapat ruang kembali di kancah Internasional. Ini kebanggaan yang tidak bisa dinilai oleh apapun. Saya bilang kalau ada yang keberatan gampang, cabut saja SK (Surat Keputusan).
D: Olimpiade menyisakan enam bulan lagi, langkah kongkret apa yang akan Anda lakukan?
O: Memang dari target awal agak terlambat karena harusnya di bulan Januari kita melakukan konsolidasi. Tapi dengan sisa waktu yang ada, kami coba maksimalkan kunjungan ke cabor-cabor proyeksi Olimpiade yang belum tersentuh sama sekali. Nantinya, sambil jalan akan ada aktivitasi tentang Olimpiade ini yang akan dimatangkan bulan Februari hingga Agustus.
D: Selain dana APBN, Anda juga melakukan fund raising untuk mendapat dana tambahan Olimpiade. Sejauh ini bagaimana potensi sponsor?
O: Sejauh ini bagus. Kami ada batasan di proposal kita jadi minimal Rp 1 miliar. Tapi sejauh ini responsnya oke. Kami juga sedang berpikir kreatif supaya ada awareness juga daari mereka, kami meng-endorsement Kemenpora. Tapi yang terpenting adalah melibatkan masyarakat sebanyak mungkin, karena otomatis program kita sukses.
D: Sebagai mantan Ketua HIPMI (2011-2014), apakah ada manfaat untuk menjaring sponsor bantu atlet Olimpiade?
O: Kalau HIPMI itu persaudaraannya kuat. Nah, saya rasakan dampaknya tidak hanya ke sini tetapi ke PB ISSI pun begitu. Karena paling enak berhubungan sama orang yang punya duit dan waktu.
D: Bisa jelaskan soal niat Anda untuk membangun awareness dari Sabang sampai Merauke?
O: Kalau masalah membangun awareness publik sepetinya tidak mungkin terjaring semua dari sabang sampai marauke. Kami tahulah keterbatasannya. Minimal kami akan mencoba kota-kota besar dulu untuk mencari yang paling praktis
D: Sebenarnya informasi untuk saat ini lebih terbuka ketimbang zaman dulu. Buka internet gampang, jejaring sosial juga ada, tapi belum tentu semua kenal atlet Olimpiade. Nah, Anda melihat gejala ini seperti apa?
O: Nah, itu tergantung awareness-nya. Ini bisa dilihat dari dari dua sisi. Bisa dari sisi pengelolanya atau dari sisi masyarakatanya sendiri. Pengelolaan yang tidak maksimal sehingga awaraness-nya dan promosi tidak sampai, atau karena sisi masyarakatnya yang memang sudah tidak peduli. Untuk itu, melalui sisa waktu atau biasa kami sebut pra Olimpiade ini akan kami dorong untuk meningkatkan awareness masyarakat terhadap atlet-atlet Indonesia.
D: Enam bulan jelang Olimpiade, Indonesia dikhawatirkan dengan menyebarnya virus Jika. Bagaimana pendapat Anda?
O: Kami tentu berkomunikasi dengan institusi yang memberi jawaban. Artinya, dari pihak CdM akan berkirim surat melalui KOI kepada Kementerian Kesehatan untuk mencari solusi situasi virus jika tersebut. Dan saya kira jawaban resmi akan sampaikan nanti setelah kami dapat jawabannya.
D: Setelah Olimpiade selesai, apakah tugas Anda juga selesai?
O: Tidak. Semangat ini akan kami bawa ke tahun-tahun berikutnya. Setelah Olimpiade ini akan ada SEA Games tahun depan. Setelah itu malah kita menjadi tuan rumah Asian Games 2018. Ini momentum yang tepat bagi kita untuk mengajak masyarakat mengenal semangat olimpian. Semangat ini akan jadi obat penyakit-penyakit mental di masyarakat.

(mcy/fem)










































