Wei sudah berada di Jakarta sejak Senin kemarin. Selama itu pula Wei melakukan kunjungan ke kawasan Kemayoran dan Gelora Bung Karno untuk melihat progress pembangunan fisik yang dilakukan. Secara keseluruhan Wei mengaku puas dengan kemajuan fisik yang sudah dicapai, meski ada beberapa venue yang menjadi catatannya.
Yang sampai saat ini masih tanda tanya adalah terkait lokasi pertandingan untuk cabang atletik. Wei menentang keras jika pertandingan digelar di Stadion Madya, lantaran venue itu tidak layak meski beberapa kali dilakukan renovasi. Ia menyarankan akan lebih baik digelar di Stadion Utama.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jika untuk latihan atau pemanasan boleh pakai Madya, tetapi untuk kompetisi bagusnya di stadion utama. Menurut saya berapa kalipun stadion Madya direnovasi saya tidak menyetujui stadion tersebut sebagai venue atletik. Namun saya di sini bukan dalam hal menolak, tapi juga tidak mengiyakan. Saya akan mencoba mendiskusikan ini dengan Presiden OCA (Sheik Ahmad Al-Sabah) dan IAAF untuk masalah ini," tambahnya.
Meski disarankan untuk dipindah dari Stadion Madya ke Stadion Utama, pemeritah memberi indikasi akan mempertahankan venue atletik di tempat yang sudah mereka tetapkan. Pemerintah yakin setelah renovasi selesai Stadion Madya akan cukup baik untuk menggelar event-event atletik.
"Mr Wei belum meihat Stadion Madya setelah selesai renovasi pada Agustus 2017. Karena itu, kami akan terus mengupayakan agar venue atletik digelar di Stadion Madya," kataΒ Deputi IV Peningkatan Prestasi Olahraga, Gatot S. Dewa Broto.
OCA Ingatkan Soal Keamanan GBK
OCA juga menegaskan kembali soal faktor keamanan untuk stadion utama GBK. Menurutnya, permintaan tersebut bukan berarti Indonesia tidak aman. Sebaliknya, karena akan banyak kepala negara yang hadir pada pembukaan, tentu akan berhubungan juga dengan protokol kepala negara masing-masing.
"Bagi OCA kami tidak perlu spesial pengamanan tapi untuk kepala negara seperti Presiden pasti saat diundang untuk opening ceremony akan ada protokol masing-masing. Oleh sebab itu, kami tanyakan kepada mereka (Kemneterian PUPR) untuk berdiskusi dengan masing-masing protokol karena kami menghormati protokol negara lain. Jadi, ini lebih ke sistem pengamanan bukan infratrukturnya, lebih antisipasi ke INASGOC bukan satgas infratruktur," Wei menjelaskan. (mcy/din)










































