Ketua Satlak Prima, Achmad Soetjipto, mengatakan kenyamanan atlet bisa dilihat dari rencana perjalanan yang KOI dan CdM buat. Artinya, seperti tanggal waktu berangkat, tanggal waktu tiba, tanggal waktu singgah, lalu selama perjalanan apakah kenyamanannya terjaga atau tidak, apakah waktu adaptasi ada, dan hal sebagainya.
"Nah, hal seperti itu kan di luar kontrolnya Prima. Sebaliknya ini menjadi tugas dari CdM dan KOI, karena itu harus betul-betul direncanakan perjalanannya jangan sampai atlet kita terlalu capek karena 'paket hemat'," ungkap Tjip kepada detikSport, Selasa (10/5/2016). Β
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tjip sendiri mengatakan pihaknya sudah meminta hal tersebut kepada KOI. Tinggal dari pihak mereka yang menyikapinya seperti apa. "Sudah... jaminan itu yang diminta Prima ke KOI, karena Prima sudah melakukan pelatihan sesuai dengan on the treck."
Untuk diketahui, Indonesia telah meloloskan 22 atlet atlet ke Olimpiade - dari total 33 atlet yang ditargetkan. Dengan rincian satu dari atletik, dua dari panahan, tujuh dari angkat besi, dua dari rowing, dan 10 lainnya dari bulutangkis. Angka ini sudah sebenarnya sudah cukup baik karena mampu menyamai jumlah wakil yang berlaga di Olimpiade London pada empat tahun lalu.
Lebih jauh, Tjip menyatakan, jika jumlah tersebut masih bisa bertambah seiring atlet-atlet yang masih berjuang di kualifikasi Olimpiade hingga Juli mendatang. Seperti atletik masih bisa bertambah atas nama Agus Prayogo di nomor marathon, kemudian dari panahan nomor tim recurve putra dan putri, balap sepeda nomor BMX, dua atlet dari rowing, kemudian dua atlet dari renang. Β
"Artinya masih banyak kemungkinan sampai penutupan nanti. Kami tentu mengharapkan jumlah atlet yang lolos bisa bertambah dari yang potensi itu," kata Tjip. (mcy/din)











































