Dana Renovasi GBK Milik Kemenpora Akan Dialihkan untuk Biaya Penyiaran

Asian Games 2018

Dana Renovasi GBK Milik Kemenpora Akan Dialihkan untuk Biaya Penyiaran

Mercy Raya - Sport
Rabu, 08 Jun 2016 19:59 WIB
Dana Renovasi GBK Milik Kemenpora Akan Dialihkan untuk Biaya Penyiaran
Foto: Rengga Sancaya
Jakarta - Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi berencana untuk merelokasi dana renovasi GBK sebesar Rp 500 miliar yang dimilikinya. Ia berencana memindahkan dana itu untuk persiapan Asian Games yang lain yaitu broadcast fee (biaya penyiaran).

Kemenpora sebelumnya memiliki dana sebesar Rp 500 miliar yang fungsinya untuk merenovasi GBK. Belakangan, dana itu ditolak karena Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kemenpupera) telah memiliki anggaran sendiri untuk renovasi kawasan GBK.

Selama itu pula, angka Rp 500 miliar itu masih berada di Kemenpora dan belum bisa diotak-atik selama belum ada usulan perubahan kembali dari pihak terkait. Akan tetapi diusulkan belum tentu disetujui oleh Komisi X, karena Kemenpora mesti berkirim surat dulu kepada Kementerian Keuangan dengan tembusan Komisi X. Setelah itu baru usulan tersebut akan dibahas oleh Badan Anggaran DPR.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Dana tersebut tadinya (memang) untuk renovasi GBK cuma kami akan relokasikan untuk membayar biaya penyiaran (broadcasting fee)," kata Imam, usai rapat kerja dengan Komisi X DPR RI, Rabu (8/6/2016).

Di samping mengusulkan soal pemindahan peruntukan anggaran, yang juga untuk penyelenggaraan Asian Paragames dan juga Satuan Pelaksana Program Indonesia Emas (satlak Prima). Menpora Imam Nahrawi juga menjanjikan untuk melakukan tawar menawar dengan pihak Olympic Council of Asia (OCA) guna menurunkan biaya penyiaran sebesar 30 juta dolar AS.

"Ya saya kira tidak ada yang tidak bisa selama kita menjelaskan dengan cara rasional. Apalagi keuangan kita saat ini sedang dalam penghematan yang luar biasa. Saya yakin Presiden OCA Sheik Ahmed Al Fahad Al Sabah mau membuka hati karena Indonesia ini bukan tuan rumah utama ketika menerima kontrak dari OCA. Indonesia sebetulnya penyangga ketika Vietnam tidak bisa menjadi tuan rumah," Imam menjelaskan.

"Selain itu alasan untuk meregonisiasi itu karena kita sudah punya surat dari pemerintah. Kami akan laporkan surat resmi itu ke OCA," ujar dia mempertegas.

Diakui Imam, dana 30 juta dollar AS itu sebenarnya sudah ada, tapi dia tetap berharap pengurangan itu tetap bisa dilakukan. "Saya belum tahu tapi sebisa mungkin dari 30 juta dolar AS bisa menjadi 15 juta dolar AS. Dengan angka itu saja saya kira kita sudah bisa bersyukur," tutupnya.

(mcy/din)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads