Pendapat itu dikemukakan Direktur Performa Tinggi (HPD) Lomba II Satuan Pelaksana Program Indonesia Emas (Satlak Prima) cabang olahraga panahan, Luki Apari. Dia menilai jatah dua pelatih yang diberikan KOI kepada panahan, Denny Trisjanto dan Endah, untuk mendampingi para pemanah pada tiga nomor berbeda pada Olimpiade 2016 Rio de Janeiro tidak cukup.
Sebagai salah satu trio srikandi yang menjadi penyumbang medali pertama bagi kontingen Indonesia di Olimpiade, Nurfitriyana dinilai sebagai sosok yang bakal menjadi salah satu motivator para atlet saat tampil dalam perlombaan nanti. Dia juga masih aktif sebagai pelatih pelatnas. Namun Denny yang berposisi sebagai kepala pelatih dan Endah yang mendampingi Ika sejak masih berlatih di Bojonegoro hingga pelatnas menjadi prioritas yang diberangkatkan ke Brasil.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita kan tampil di tiga nomor, recurve perseorangan putra dan putri serta beregu. Jadi, kalau tiga pelatih yang mendampingi sangat wajar. Apalagi, Nurfitriyana adalah salah satu anggota srikandi yang meraih perak pada Olimpiade Seoul 1988," tutur Luki.
Secara terpisah, Deputi IV Peningkatan Prestasi Olahraga Kemenpora, Gatot S. Dewa Broto berjanji akan menanyakan pendistribusian jatah ID Card Offisial yang akan mendampingi Tim Olimpiade Rio de Jeneiro 2016.
"Ya, saya akan menanyakan kemana saja didistribusikan jatah ID Card itu kepada KOI," katanya.
Sebelumnya, Wakil Ketua Satlak Prima Lukman Niode mengatakan sesuai ketentuan Komite Olimpiade Internasional (IOC), Indonesia yang diperkuat 28 atlet mendapatkan jatah 50 persen dari kuota atlet Olimpiade.
"KOI harusnya terbuka dalam masalah ID Card Offsial," katanya.
(mcy/fem)











































