Menpora Kritik Lemahnya Sosialisasi TAFISA

TAFISA Games 2016

Menpora Kritik Lemahnya Sosialisasi TAFISA

Mercy Raya - Sport
Kamis, 06 Okt 2016 12:03 WIB
Menpora Kritik Lemahnya Sosialisasi TAFISA
Foto: Hasan Alhabshy
Jakarta - Mulai diperlombakan hari ini, TAFISA World Games yang merupakan Olimpiade-nya olahraga rekreasi dan tradisional, masih belum terasa gaungnya. Menpora Imam Nahrawi pun mengkritik lemahnya sosialisasi.

TAFISA akan berlangsung selama sepekan penuh, dimulai 6 Oktober hingga 12 Oktober di kawasan Ancol, Jakarta Utara.

Saat ini sudah ada sekitar 87 negara yang memastikan hadir. Selain itu ada juga perwakilan 29 provinsi yang siap ikut serta meramaikan acara tersebut.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sayangnya, acara yang merupakan multiajang skala internasional itu belum sepenuhnya diketahui oleh masyarakat luas. Panpel berdalih dengan alasan klasik, yaitu ketersediaan anggaran sehingga sosialisasi tidak bisa dilakukan secara optimal.

Padahal jika Jakarta sudah ditunjuk sebagaituan rumah TAFISA sejak November 2011. Itu artinya sudah lima tahun lalu. Tapi kenyataannya persiapan yang dilakukan panpel cenderung "sistem kebut semalam".

Baca Juga: TAFISA World Games Belum Ada Gaung, Ini Dalih Hayono Isman]

"Saya sudah melihat venue TAFISA tapi memang tidak semua. Secara umum persiapannya saya lihat lumayan. Meski kritik saya panpel sangat lemah sekali dalam hal sosialisasi, publikasi hingga pelibatan masyarakat untuk dapat ikut dalam momentum ini karena ini merupakan event dunia," kata Imam di Cibubur, Jakarta Timur, Rabu (5/10).

Menurut Imam, dirinya sudah mendorong panpel JATGOC ( Jakarta TAFISA Games Organizing Committe). untuk memanfaatkan waktu yang tersisa dengan memberi kemudahan bagi masyarakat yang ingin berkunjung ke Ancol.

"Tentu saya minta kepada panpel dengan sisa waktu yang ada agar memanfaatkannya dengan melakukan sosialisasi, libatkan media massa, libatkan masyarakat untuk mengetahui apa sih itu TAFISA World Games itu dan cabor apa saja yang dipertandingkan. Sebab kalau masyarakat tahu, tentu mereka akan datang," ujar Imam.

"Ya meski kita sebenarnya punya kesulitan juga karena masyarakat yang mau nonton harus bayar karcis di Ancol. Karenanya, tak henti-hentinya saya juga minta mereka dari awal setidaknya memberikan langkah mudah kepada masyarakat yang ingin nonton. Setidaknya ada diskon, dan rupanya ada diskon bagi 5.000 orang atau 10.000 orang pertama yang masuk ke sana," lanjutnya.

Imam juga mengomentari soal sosialisasi yang dilakukan panitia pelaksana JATGOC di tujuh kota pulau Jawa, yang dilakukan H-3 sebelum pertandingan dimulai.

"Sosialisasi ini sebenarnya hal yang terlambat. Seharusnya di-branding di semua media sedemikian rupa dan menjadikan ini sesuatu kebanggan nasional. Tapi ini jadi pelajaran berharga karena kita tidak boleh memilih lokasi yang mestinya masyarakat datang dengan mudah," tukasnya. (mcy/din)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads