Di jalan Benyamin Suaeb, Jakarta International Expo Kemayoran, ribuan peserta yang tak hanya berasal dari Indonesia ini bersiap melakoni jalan sehat, yang menjadi rangkaian zumba pada Minggu (9/10) pukul 06.00 WIB.
Disela-sela walking day itu juga, rencana untuk memecahkan "Guinness Book of World Record" untuk jumlah penari zumba terbanyak, yaitu 13 ribu-14 ribu peserta, juga didengungkan. Namun, tujuan itu gagal tercapai.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski gagal, Ketua Deputy V, Dina Carol, mengaku dirinya tidak kecewa. Sebab, tujuan dari walking day ini bukan semata-mata rekor, tapi menumbuhkan kesukaan pada jalan sehat. Apalagi yang ikut dalam ajang ini tidak hanya manula, tetapi juga anak muda.
"Memang, kami membidik rekor, tapi saya tak ingin menekan para penari. Apalagi mereka juga banyak yang manula, dan mereka juga ikutan walking day. Kalau yang muda tak mumpuni jumlahnya. Saya juga tak mendaftar ke MURI," kata Dina yang juga pimpinan Elite Event Management.
Dina menyebut, kegagalan mencapai angka 13.000 lantaran persiapan kurang, hanya 1,5 bulan. Selain itu, saat zumba digelar, banyak peserta yang terlambat.
Pemecahan rekor sendiri sejatinya masih bisa dilakukan kembali pada sore hari. Namun, Dina memilih untuk tidak memanfaatkan hal tersebut. Sebab akan percuma karena banyak peserta yang akhirnya memilih pulang.
Di luar itu, Dina pun mewarnai kegiatannya dengan hiburan lain yakni dari band Govindna. Sedangkan dari Zumba, ia mendatangkan pakar dan instruktur berkelas dunia buat menarik peminat. Instruktur itu antara lain dari Brasil dan Spanyol seperti Jessica Esposito dan Armando Calcedo.
Ini kali kedua Indonesia gagal menembus rekor di TAFISA Games 2016. Sebelumnya pemecahan rekor bermain engrang terbanyak di dunia juga gagal karena kurangnya koordinasi.
(mcy/roz)











































