Untuk diketahui, Kemenpora tengah membangun Olympic Center di Cibubur dalam rangka memperkuat Program Indonesia Emas (PRIMA) dan Program-program olahraga prestasi lainnya. Olympic Center juga diharapkan meningkatkan peluang sukses bagi atlet andalan Prima menghadapi Asian Games 2018 dan kompetisi internasional lainnya, terutama Olimpiade 2020.
Dibangun sejak Mei-Juni oleh kontraktor PT Pilar Cadas Putra dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, gedung Olympic Center ditargetkan rampung akhir Desember 2016. Sementara untuk pengembangan kawasan pembangunannya akan dilanjutkan pada Januari hingga Desember 2017 dengan menggunakan anggaran Kemenpora sebesar Rp 390 miliar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Cabang taekwondo sejatinya telah menggunakan sarana di PP PON Cibubur sebagai tempat latihan sejak 2011. Mereka menggunakan Gelanggang Olahraga Popki hingga saat ini, meski pemanfaatannya belum maksimal.
Kepala Bidang Peningkatan Prestasi Olahraga PB TI, Rahmi Kurnia, mengatakan atletnya kerap berpindah-pindah karena harus berbagi dengan sejumlah pihak yang sudah menyewa gedung tersebut dengan kejuaraan-kejuaraan cabang olahraga. Tak hanya itu, di beberapa momen mereka juga harus berbagi tempat dengan cabang olahraga lain seperti sepak takraw dan pencak silat sehingga latihannya pun dinilai kurang efektif.
"Waktu SEA Games 2015 kemarin kan kami harus berbagi dengan cabang lain, begitu juga saat PON kemarin. Karena gedung Popki ini sering disewa juga, bahkan tak jarang untuk kejuaraan-kejuaraan. Jadi kami harus cari tempat untuk latihan sementara. Karena itu, jika memang akan diberikan tempat untuk tinggal di sana dan tidak perlu pindah-pindah lagi, saya setuju sekali," kata Rahmi saat dihubungi detikSport, Senin (7/11/2016).
Tak hanya soal tempat latihan, untuk masalah sarana dan prasarana, disebutkan Rahmi, juga belum sepenuhnya maksimal. "Alat-alat di sana sebetulnya masih sederhana sekali namun masih bisa digunakan. Tapi untuk fasilitas pendukung masih ada beberapa yang perlu diperbaiki dan mesti dilengkapi. Seperti Air Conditioner (AC) sudah setengah tahun mati, itu kan buat tidak nyaman," katanya.
Berbeda dengan fasilitas training, Rahmi mengaku terbantu dengan rumah sakit olahraga yang ada di PP PON. Menurutnya, keberadaan RSON cukup membantu atletnya yang tengah cedera.
Menyoal tempat penginapan, Rahmi mengatakan, saat ini PB TI telah menyewa sebuah villa yang tidak jauh letaknya dari PP PON. "Dulu kami menyewa di wisma itu tapi karena sering digunakan untuk kegiatan juga, jadi kami harus keluar dan masuk kembali setelah kegiatan berakhir. Nah, daripada seperti itu terus kami menyewa sebuah villa untuk para atlet. Tempatnya itu dekat dengan PP PON hanya beberapa meter dari tempat latihan. Di sana suasananya homey dan kami, pelatih juga mudah memantau atlet selama 24 jam," ujarnya.
Di lain sisi, PB TI tengah mempersiapkan ke-12 atletnya untuk menjalani tes kesehatan pada 10 November mendatang dan tes fisik pada keesokan harinya sebagai program dari Satlak Prima. Ke-12 nama itu adalah Reinaldy Atmanegara, Maulana Haidir, Muhammad Adurrahman, Muhammad Alif Kusuma, Marieska Halinda, Mutiara Habiba, Defia Romaniar, Ruhil, Saleha, Chairul Adzan, Dhean Titania, dan Dinggo Ardian P. Mereka akan menjalani
Tes ini dilakukan untuk lebih memahami kondisi masing-masing atlet baik kondisi kesehatan maupun fisiknya serta menyatukan langkah awal dalam perencanaan penanganan atlet ke depan antara cabor dengan Satlak prima. (mcy/din)











































