DetikSport
Senin 13 Februari 2017, 19:29 WIB

Sidang Pertama Digelar, Atlet Berkuda Tolak Tuduhan Doping di PON

Mercy Raya - detikSport
Sidang Pertama Digelar, Atlet Berkuda Tolak Tuduhan Doping di PON Foto: Mercy Raya/detikSport
Jakarta - Atlet berkuda Jendry Turangan bersikukuh tidak menggunakan doping. KONI Jateng akan melakukan upaya hukum jika keputusan Dewan Disiplin tidak memuaskan atletnya.

Dewan Disiplin Antidoping Pekan Olahraga Nasional (PON) dan Pekan Paralimpik Nasional (Peparnas) melakukan sidang dengar pendapat perdananya pada Senin (13/2/2017) di PP Itkon, Senayan, Jakarta. Hadir dalam sidang itu tiga tim dewan disiplin, perwakilan Lembaga Anti Doping Indonesia (LADI) sebagai saksi, perwakilan KONI, serta atlet gagal doping bersama pendamping. Ada dua atlet yang bersidang hari ini. Salah satu atlet bersikeras tidak melakukan doping dan berencana melakukan upaya hukum jika diputuskan bersalah.

Adalah Jendri Turangan, atlet berkuda asal Jawa Tengah, yang mendapat giliran pertama untuk memberikan penjelasan serta pembelaannya terkait kasus yang menimpanya. Jendri gagal doping karena uji sampel A terbukti mengandung zat furosemide dan zat diuretic yang masuk kategori doping.

"Ada dua kemungkinan zat ini bisa masuk dalam tubuh atlet, apakah itu diminum atau lewat suntikan. Tetapi dalam kasus Jendry kemungkinan lewat minuman. Zat ini biasanya digunakan untuk meningkatkan volume pengeluaran urine. Sehingga bisa menyeimbangkan berat badan atau pengurangan berat badan," kata salah satu anggota Dewan Disiplin, Haryono, usai sidang.

Namun, pengacara Jendry, John Richard Latuihamallo, yang juga Kepala Bidang Hukum KONI Jawa Tengah, menampik hal itu. Menurut dia, tidak benar jika atletnya menggunakan doping apalagi tidak pernah ada rekam jejak atlet yang tersangkut kasus seperti itu.

Di samping itu, John juga keberatan sebab sejak awal pengambilan sampel sudah ada beberapa hal yang meragukan. Dimulai dari pengambilan sampel yang tidak sesuai prosedur hingga lokasi tes doping yang tidak steril.
Sidang Doping PON 2016 Jawa BaratSidang Doping PON 2016 Jawa Barat Foto: Mercy Raya/detikSport

"Ada beberapa hal yang membuat kami merasa janggal dan tidak yakin dengan keputusan yang ditujukan kepada atlet kami. Pertama, kami merasa vonis sampel A yang ada tidak sesuai dengan prosedur pengambilan sampel. Artinya kami tidak ada pedamping, juga tidak ada dokter yang mengawasi di sana, selain itu juga tidak steril karena tempatnya banyak orang berlalu lalang," kata John, terpisah.

"Lalu Jendry itu disuruh minum sampai lima botol aqua ukuran satu liter dari panitia dan itu kemasannya ada yang sudah terbuka. Hal lainnya adalah soal legalitas dari siapa yang melaksanakan pengambilan sampel juga tidak jelas.

"Di samping itu, proses doping itu kan belum final tetapi diumumkan secara terbuka dan nasional bahwa ada yang terkena doping. Ini kan menyalahi prosedur, padahal sampel B belum dibuka. Artinya, kami meragukan keberadaan sampel B itu. Dari awal kami meragukan proses pengambilan sampel juga," tambahnya.

"Selain itu, kami juga minta sampel B untuk klien kami untuk dikembalikan ke Indonesia. Karena kami ingin tahu apakah benar DNA daripada urine itu benar punya klien kami atau tidak Sebab, sejak awal sudah ada rekayasa dan prosedurnya tidak benar. Sampel B itu berindikasi urinenya punya orang lain. Karena klien kami tidak pernah melakukan itu."

Meski begitu, John mengatakan akan mengikuti lebih dulu prosedur yang diberikan Dewan Disiplin. Jika hasil keputusan memberatkan kliennya, maka KONI Jateng akan melakukan upaya hukum.

"Ya kita lihat saja. Kalau banding ikuti dulu prosesnya. Tetapi kalau tidak memuaskan kami maka kami harus menempuh jalur lain. Nanti kami pikirkan strateginya seperti apa," tegas John.

"Sebab, sejauh ini atlet kami tidak pernah menggunakan zat doping atau tersangkut doping dan ini dia joki, kalau kudanya yang diberikan doping mungkin saja. Ini kan atletnya buat apa? Kenapa dia harus pakai, kalau selama ini tidak pernah pakai zat tersebut," ucap dia.


(mcy/fem)

Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed