Sekjen PP Pertina Shelly Selowati HS Miranda mengatakan di Mongolia para petinju akan mengikuti kejuaraan terbuka (International Open) yang akan berlangsung 21 sampai 26 Juni mendatang.
"Anak-anak harusnya berangkat Minggu (18/6) kemarin. Tetapi persetujuan belum turun, sampai akhirnya setelah di detik-detik akhir diizinkan. Jadi mereka hanya punya sehari untuk istirahat karena Rabu (21/6) mereka sudah harus bertanding," kata Shelly ketika dihubungi wartawan, pada Selasa (20/6/2017).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Akomodasi saja kami masih berutang kepada pihak ketiga hingga Rp 1 miliar. Belum ada pembayaran Februari sampai Mei. Tempat pelatnas kami di tempat Pak Icuk Sugiarto Training Center (ISTC). Jadi satu medali emas saja cukup," sambungnya.
Masalah dukungan dana memang selalu menjadi persoalan klasik di tengah persiapan atlet proyeksi SEA Games. Pemerintah seolah tak berkaca dari masalah-masalah yang pernah terjadi.
"Kami sebenarnya dijanjikan training camp dua kali, ke Kuba dan Uzbekistan. Tapi setelah training camp di Uzbekistan harusnya langsung ikut kualifikasi Kejuraan Dunia. Tapi persetujuan terlambat," kata Shelly.
"Untuk ke Uzbekistan saja belum ada reimburse sampai sekarang. Kami juga tidak memakai pelatih asing karena dengan sistem keuangan yang tidak jelas seperti sekarang, kerap terlambat, tidak mungkin kita memakai jasa pelatih asing. Bagaimana mau membayarnya?," katanya.
Rencananya setelah dari Mongolia, tinju akan kembali melakoni pelatnas di ISTC. "Kami akan kembali menggeber latihan di ISTC sampai SEA Games nanti," imbuh Shelly.
(mcy/cas)











































