Asian Games XVIII jadi kesempatan kedua Indonesia bertindak sebagai tuan rumah pesta olahraga se-Asia itu. Indonesia menjadi pengganti Vietnam yang lebih dulu diputuskan sebagai tuan rumah, tapi akhirnya mundur di tengah perjalanan.
Kesempatan itu menjadi yang kedua bagi Indonesia. Indonesia pernah menggelar pesta olahraga negara-negara Asia pada 1962.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Seperti dikisahkan Wienakto & Soetopo dalam Sport, Nationalism and Orientalism (Fan Hong:2006), langkah awal Indonesia menjadi tuan rumah amat sangat tidak mulus. Indonesia begitu diragukan kemampuannya menggelar pesta olahraga terbesar di Asia itu.
Banyak faktor yang kala itu jadi pertimbangan. Mulai dari bagaimana Indonesia memberi fasilitas, akomodasi hingga masalah transportasi.
Penjajakan Indonesia untuk menjadi tuan rumah berlangsung lama. Hasarat menjadi tuan rumah Asian Games itu muncul setelah Indonesia rutin mengikuti pertemuan Asian Games Federation (AGF) di New Delhi 1951, Manila 1954, dan Melbourne 1956.
Momentum itu didapatkan pada 23 Mei 1958, sehari sebelum pembukaan Asian Games Tokyo saat AGF menggelar rapat soal penentuan tuan rumah berikutnya. Indonesia bersaing dengan Pakistan sebagai tuan rumah Asian Games. Indoensia mengajukan jakarta sedangkan Pakistan menawarkan Kota Karachi sebagai tuan rumah.
Dalam rapat itu, Indonesia mendelegasikan Sri Paku Alam, Dr. Halim yang dipimpin Menteri Olahraga Maladi. Sebelum berangkat, Presiden Soekarno diketahui menugaskan satu hal; bawa Asian Games ke Jakarta.
Setelah melalui perdebatan yang panjang, Indonesia terpilih menjadi tuan rumah. Indonesia memenangkan voting member AGF sebanyak 22 suara, mengalahkan Pakistan yang meraup 20 dukungan. Palu pun diketuk dan menyatakan Asian Games 1962 digelar di Jakarta.
Paku Alam langsung menyampaikan kabar bahagia itu para para kontingen Indonesia. "Goal. Diterima. Asian Games keempat di Jakarta!" ucap Paku Alam ketika itu.
Awalnya para kontingen ragu akan kebenaran kabar itu. Namun pada akhirnya, mereka percaya usai ada tambahan informasi dari Paku Alam.
"Hatiku sangat bahagia. Saya hampir merasa sesak napas," cerita Wienakto.
Tak lama kemudian, Wienakto bergegas menuju stasiun kecil radio Indonesia di Meiji Park Main Stadium, Tokyo, untuk mengabarkan kepastian Indonesia menjadi tuan rumah Asian Games 1962.
Indonesia yang belum punya infrastruktur memadai mau tak mau langsung menggenjot pembangunan. Hanya dalam tempo singkat, sekitar tiga tahun, Indonesia punya segalanya, mulai dari bandara, hotel, patung hingga kompleks stadion yakni Gelora Bung Karno di Senayan, Jakarta, yang masih bisa digunakan hingga saat ini.
Kompleks Gelora Bung Karno kini sedang direnovasi untuk menghelat pergelaran yang sama seperti 55 tahun silam. Pada 18 Agustus 2018 nanti, Asian Games XVIII akan digelar di Indonesia.
(fem/fem)











































