DetikSport
Rabu 30 Agustus 2017, 19:45 WIB

Indonesia Memble di SEA Games 2017: Sudah Salah Langkah Sejak Awal

Mercy Raya - detikSport
Indonesia Memble di SEA Games 2017: Sudah Salah Langkah Sejak Awal Ilustrasi SEA Games 2017. (Sigid Kurniawan/Antara Foto)
FOKUS BERITA: SEA Games 2017
Jakarta - Pengamat olahraga Djoko Pekik Irianto tak terkejut dengan hasil buruk Indonesia di SEA Games 2017 Kuala Lumpur. Dia menilai Indonesia sudah salah langkah sejak awal.

Dengan hanya menuai 38 medali emas, Indonesia gagal memenuhi target 55 emas. Pasukan Merah Putih juga membukukan rekor terburuk dengan baru kali pertama meraih tak sampai 40 keping emas di SEA Games 2017 yang ditutup Rabu (30/8/2017).

Djoko Pekik menilai ada pihak yang abai dalam menyiapkan atlet elite menuju SEA Games. Padahal, Satuan Pelaksana Program Indonesia Emas (Satlak Prima) tak bisa bekerja sendirian seperti diatur dalam Perpres nomor 22 tahun 2010 tentang Satlak Prima.

[Baca Juga: Malaysia Juara Umum, Indonesia Peringkat Kelima]

"Menurut saya persiapan SEA Games hanya dilakukan Satlak Prima. Dewan Pelaksana Prima tidak berperan. Padahal di Perpres jelas dibunyikan rencana persiapan kontingen ke berbagai multievent yang menyusun adalah Dewan Satlak Prima, lalu yang melaksanakan Satlak Prima," kata Djoko Pekik kepada detikSport.

"Itu yang salah satu jadi masalah, sehingga Pak (Achmad) Soetjipto selaku Ketua Satlak Prima bekerja sendiri dan tak ada kendali dari dewan," ujar dia lagi.

Komunikasi Buruk Satlak Prima dan KOI

Selain itu, kegagalan Indonesia di SEA Games dipengaruhi oleh ketidakmampuan menentukan prioritas cabang atau nomor olahraga potensi emas. Dia juga melihat komunikasi KOI dan Satlak Prima tak berjalan dengan baik.

"Seharusnya setelah kembali dari Singapura 2015 ada rapat untuk menentukan cabang dan nomor apa yang dipertandingkan di SEA Games 2017. Nah, di sana itu yang berperan dari KOI saja, padahal KOI tidak tahu konten kekuatan kita (Indonesia)," jelas Djoko yang juga Ketua Asosiasi Profesor Keolahragaan Indonesia (APKORI) ini.

"Seperti diketahui tuan rumah selalu merekayasa cabang-cabang yang menjadi kekuatan negara-negara lawan, seperti rowing,voli pantai dll. Harusnya KOI dan Satlak Prima bisa bekerja sama untuk negosiasi soal itu. Meskipun tidak bisa, Prima juga harusnya tidak serta merta beralasan, "ya cabang unggulan kita tidak dipertandingkan ya jadi begini", sebaliknya maksimalkan potensi-potensi dari cabang lainnya," lanjut dia.

"Dari sejak 2015 kan sudah ketahuan cabang-cabang apa saja, nah siapkan atletnya dengan High Perfomance Program seperti yang sering dikatakan Pak Tjipto. Ambil 10-15 nomor potensi dengan pendekatan latihan dalam kondisi atau ikut kompetisi selama dua tahun itu," tutur dia.

Djoko mengakui semua itu butuh anggaran yang besar, karena itu harusnya Satlak Prima bisa memilih yang paling prioritas. "Selama ini dari kacamata saya semua diberikan sama. Misalnya, cabang prioritas orientasinya dua kali ujicoba. Menurut saya ya tidak cukup karena yang potensi harus terbiasa dengan koompetisi dan kompetisi," katanya.

Tuntutan Kerja Ekstra Keras dan Kerja Sama Menuju Asian Games 2018

Kegagalan di SEA Games 2017 menjadi gambaran beratnya langkah Indonesia di Asian Games 2018. Djoko Pekik meminta agar semua unit bekerja ekstra keras.

Djoko PekikDjoko Pekik Foto: Rengga Sancaya


"Ingat urusan Asian Games bukan urusan Kemenpora saja tetapi urusan bangsa, sehingga semua unit harus terlibat. Segala persiapan harus dimaksimalkan meski sudah telat karena sudah tinggal satu tahun lagi," kata Djoko.

[Baca Juga: Gagal SEA Games 2015 Menpora Janji untuk Bertanggung Jawab, Kali Ini Minta Maaf]

"Semisal taruh lah bidik 10 besar dengan capaian minimal 12-15 medali emas. Nah, harusnya kita sudah tahu siapa atlet-atlet yang potensi untuk meraih sekitar 12 medali emas itu. Tidak perlu banyak-banyak sekitar 75 sampai 100 atlet saja yang bisa disiapkan dengan maksimal. Tapi disiapkan dengan High Perfomance Program dan tentu kembali lagi anggaran juga harus digelontorkan banyak di sana," ujarnya.

"Enggak susah sebetulnya. Prima harus mampu bersinergi dengan stakeholder lain yang memiliki tentang sport science. Baik itu dari segi ahli maupun peralatan. Selain itu, tentu keberadaan Dewan Pelaksana Prima harus diberdayakan meski sudah telat. Tapi ini harus betul-betul karena satu sisi prestasi adalah taruhan bangsa kita," kata dia.

Klasemen umum SEA Games 2017 Kuala Lumpur. Nyangka nggak kalian dengan peringkat akhir Indonesia? #seagames2017 #kualalumpur

A post shared by detiksport Official Account (@detiksport) on Aug 30, 2017 at 4:16am PDT



(mcy/fem)

FOKUS BERITA: SEA Games 2017
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed