detikSport
Follow detikSport Linkedin share
Selasa, 05 Sep 2017 18:00 WIB

Selalu Muncul Masalah yang Sama, Masih Tepatkah Olahraga Ditangani Kemenpora?

Femi Diah - detikSport
Pengukuhan kontingen Indonesia ke SEA Games 2017 Kuala Lumpur. (Rengga Sancaya/detikSport) Pengukuhan kontingen Indonesia ke SEA Games 2017 Kuala Lumpur. (Rengga Sancaya/detikSport)
Jakarta - Kegagalan Indonesia di SEA Games 2017 Kuala Lumpur menjadi cerminan bobroknya penanganan olahraga nasional. Masih tepatkah olahraga berada di bawah naungan Kementerian Pemuda dan Olahraga?

Bukan menjelang SEA Games 2017 ini saja, persiapan atlet diwarnai ketidakberesan. Menpora Imam juga sudah dua kali minta maaf atas melesetnya target Indonesia di SEA Games.

[Baca Juga: Terperosok ke Dalam Lubang yang Sama, Menpora Kembali Minta Maaf]

Mantan pebulutangkis nasional yang pernah menjadi staf ahli Kemenpora, Ivana Lie, berharap agar ada pengkajian ulang tata kelola organisasi olahraga. Dia juga menyebut olahraga tak bisa disatukan dengan kepemudaan yang lekat dengan aroma politik.

"Secara objektif, semua berperan terhadap hasil buruk di SEA Games 2017. Kalau menurut saya lembaga-lembaga olahraga di Indonesia memang ruwet, ada KONI, ada KOI, ada Menpora, kemudian Satlak Prima. Memang harus ada pengkajian lagi tentang cocok atau nggak olahraga ditaruh di Kemenpora," kata Ivana yang dihubungi detikSport, Selasa (5/9/2017).

[Baca Juga: Evaluasi SEA Games dengan Restrukturisasi Satlak Prima, Cukupkah?]

"Untuk mengurusi olahraga semestinya ketuanya profesional dan jangan dari politik, meskipun ada kebijakan-kebijakan politik. Kalau masih di bawah kementerian sudah terbukti soal keuangan selalu kesulitan karena mengikuti birokrasi kementerian. Semestinya dibuat badan khusus di bawah presiden," Ivana menjelaskan.

"Lembaga-lembaga olahraga (Kemenpora, KONI, KOI, Satlak Prima) itu juga menjadi tumpang tindih. Harus ada perbaikan dari hulu. Satlak Prima dan pengurus besar sangat tergantung dukungan APBN, kalau kran dari atas macet maka ke bawah juga macet. Idealnya anggaran itu mengikuti program, tapi kalaupun tak bisa ideal seharusnya ada jumlah anggaran yang ditentukan. Berangkat dari situ, Menpora, Prima dan PB harus duduk bersama menyepakati program setiap tahun," tutur dia.

[Baca Juga: Indonesia Jeblok di SEA Games, Jokowi-JK Putuskan Perbaiki Sistem Pelatihan]

Satlak Prima Masih Dibutuhkan

Ivana juga menanggapi tentang wacana pembubaran Satlak Prima yang berkembang belakangan ini. Dia menilai Satlak Prima masih dibutuhkan oleh cabang olahraga yang belum mampu membiayai organisasinya sendiri.

"Fungsi dan tujuan Satlak Prima sebenarnya bagus dengan sport science team untuk mendukung PB. Karena saat ini banyak PB yang belum mumpuni dan memerlukan dukungan SDM sport science. Idealnya tim seperti dengan kemampuan itu ada di tiap PB, tapi faktanya PB tidak mempunyai uang untuk membiayainya," tutur Ivana.

"Tapi Satlak prima juga harus berbenah kok bisa sampai tidak tahu peta kekuatan lawan. Selain itu, Satlak Prima jangan terlalu banyak personil di dalam Satlak Prima. Jangan sampai justru mereka lemah dalam manajemen dengan menampung terlalu banyak orang," imbuh dia.


(fem/krs)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detiksport.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com