Usulan OCA itu sebagai konsekuensi tambahan dari permintaan penambahan nomor Asian Games 2018 kepada Presiden OCA Sheikh Ahmad Al Fahad Al Sabah, tertanggal 9 Oktober 2017. Nomor-nomor baru yang diusulkan itu dari panahan, panjat tebing, dan taekwondo.
Sembilan nomor itu sudah disetujui OCA yang kemudian juga menghapus sembilan nomor yang sudah lebih dulu dipertandingkan; dari cabang sambo satu nomor, kurash (1), BMX (2), tinju (3), karate (1), dan jujitsu (1).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pengurus Besar Persatuan Wushu Indonesia (PB PWI) jelas-jelas menolak usulan tersebut. Malah mereka meminta tambahan satu nomor golok dan toya dimasukkan menjadi 16 nomor dari sebelumnya hanya mempertandingkan 15 nomor.
"Awalnya kami mengajukan penambahan satu nomor peluang medali emas dari 15 ke 16 nomor. Tapi OCA rupanya ingin mengurangi. Kami tidak tahu ada kesepakatan apa di dalamnya. Ada nomor yang diotak-atik sehingga wushu terkena imbasnya," kata manajer pelatnas Asian Games Iwan Kwok kepada detikSport di kantor Kemenpora, Kamis (30/11/2017).
"Kami tidak diberi tahu nomor apa yang akan dipangkas. dan jika diminta untuk memilih, kami tidak akan memilih karena 15 nomor itu sudah standar, sudah paling minim. Malah kalau mau ditambah nomor golok dan toya putri," ujar dia kemudian.
Lebih jauh Iwan mengatakan sejauh ini Panitia Penyelenggara Asian Games (INASGOC) tak banyak membantu. Sebaliknya mereka pasrah.
"INASGOC hanya berdasarkan OCA. Ini yang saya anggap fighting spiritnya tidak ada. Kok pasrah. Dengan pihak INASGOC (Harry Warganegara) saya sempat ada diskusi, tapi paling mungkin memperjuangkan kembali ke 15 nomor. Ya, jika kembali ke jumlah itu bukan perjuangan tapi pasrah. Namanya berjuang ya nambah menjadi 16 nomor, jika 15 nomor ya tidak terlalu membantu wushu," ujar dia.
(mcy/krs)











































