DetikSport
Kamis 22 Februari 2018, 17:00 WIB

PABBSI Siapkan Opsi Jika Penghapusan Kelas 62 Kg Tak Bisa Ditawar

Mercy Raya - detikSport
PABBSI Siapkan Opsi Jika Penghapusan Kelas 62 Kg Tak Bisa Ditawar Yves Herman/Reuters
Jakarta - Pemerintah bersama PB PABBSI terus berupaya agar kelas 62 angkat besi tetap dipertandingkan di Asian Games 2018. Jika tidak, Eko Yuli Irawan terpaksa naik kelas.

Eko menjadi salah satu andalan Indonesia di Asian Games 2018. Namun, enam bulan sebelum multievent digelar, Federasi Angkat Besi Asia menghapus kelas 62 kg, kelas spesialis Eko.

Dari uji coba paling akhir, di test event, Eko meraih emas di kelas tersebut. Dari kelas itu pula, Eko meraih medali perak di Olimpiade 2016 Rio de Janeiro.

[Baca Juga: Kelas 62 Kg Angkat Besi Dihapus Dari Asian Games, Ini Respons Menpora]

Kemenpora sudah berupaya dengan berkirim surat kepada Presiden Olympic Council of Asia, Ahmed Al-Fahad Al-Ahmed Al-Sabah, agar keputusan tersebut dibatalkan.

Selain itu, Kemenpora mendesak Panitia Penyelenggara Asian Games 2018 (INASGOC) dan PB PABBSI untuk menggunakan jaringannya di Asia dan internasional untuk bisa menganulir keputusan tersebut.

Jika upaya-upaya itu tak berhasil, PABBSI sudah menyiapkan opsi terakhir. Eko harus naik kelas.

"Eko tidak mungkin turun kelas. Paling mungkin dia naik kelas jika melihat kondisi yang ada," kata Kabidbinpres PB PABBSI, Alamsyah Wijaya, ketika ditemui di kawasan Senayan, Kamis (22/2/2018).

"Meski harus naik pun kami harus rela hati ada yang tidak diikutsertakan. Sebab, masing-masing negara kuotanya hanya dua atlet. Saat ini kita ada Deni dan Triyatno di kelas 69 kg. Jadi mau tak mau harus seleksi lagi," dia mengungkapkan.

Diakui Alamsyah, perubahan kelas ini tak ada mudah. Sebab, sulit untuk mengubah berat badan dan massa otot dalam kurun waktu kurang dari enam bulan.

[Baca Juga: Kelas Milik Eko Yuli Tak Akan Dipertandingkan di Asian Games 2018]

"Jika bicara berat badan, kalau secara teknik di akanbertambah gemuk, maka belum tentu tambahnya otot. Waktunya pendek kan akhirnya tambah pelan kecepatannya," ujarnya.

"Untuk anak muda mungkin proses adaptasi ototnya cepat, tapi Eko sekarang 28 tahun. Kan tidak mungkin diberi program latihan sepanjang hari. Itu kan sulit," Alamsyah menambahkan.

"Kedua masalah otot. Adaptasi ototnya belum tentu jalan. Yang paling parah kepercayaan dirinya karena dia harus pindah kelas di kelas yang tidak nyaman," ujarnya lagi.

Alamsyah menambahkan keputusan akhir untuk Eko ada di pekan ini.

"Pekan ini. Sekarang pun Eko mesti istirahat sebulan. Minimal April baru bekerja keras dan itu tidak bisa langsung di gas. Mesti pelan-pelan. Untuk itu, saya berharap persoalan ini bisa selesai," katanya.
(mcy/fem)

Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed