DetikSport
Selasa 13 Maret 2018, 20:29 WIB

Menunggu Kejutan Medali Emas dari Cabang Atletik

Mercy Raya - detikSport
Menunggu Kejutan Medali Emas dari Cabang Atletik Atletik diharap bisa kembali memberi kejutan meraih medali emas di Asian Games 2018 (Rengga Sancaya)
Jakarta - Empat tahun lalu cabang atletik memberi kejutan saat menyumbang medali emas melalui Maria Natalia Londa. Tahun ini, PB PASI berharap bisa memberi kejutan serupa.

Pada Asian Games 2018, cabang atletik akan mempertandingkan 48 nomor event. Dari jumlah tersebut PASI hanya menurunkan 16 atlet yang tampil di 12 nomor.

Dua di antaranya diandalkan untuk bisa meraih minimal satu medali emas, yakni 4 x 100 estafet putra dan lompat jauh.

"Mungkin lompat jauh dan 4 x 100 estafet putra. Mudah-mudahan bisa dapat medali emas," kata Ketua PB PASI, Bob Hasan, di sela-sela latihan perdana atlet atletik di Stadion Madya, Senayan, Selasa (13/3/2018).



Bukan tanpa dasar PASI memasang target pada dua nomor tersebut. Di nomor lompat jauh putra, Sapwaturrahman diharapkan bisa memberi kejutan.

Atlet lompat jauh asal Nusa Tenggara Barat ini pernah melompat sejauh 7,90 meter pada saat Pekan Olahraga Mahasiswa Nasional Oktober lalu. Sementara lompatan terbaru saat test event Asian Games, Februari 2018, hanya 7,43 meter.

Soal itu, Bob mengatakan tidak bisa dijadikan patokan lantaran atlet masih dalam periode conditioning.

"Ibaratnya belum top bertanding. Kan masih ada beberapa bulan. Jika dihajar sekarang bisa saja peak perfomance-nya lewat," lanjut Bob.



Emas Asian Games nomor lompat jauh putra diraih atlet China. Pada Asian Games 2014 lalu dia berhasil membuat lompatan sejauh 8,01 meter. Sementara medali perak dipegang Korea Utara dengan lompatan 7,90 meter.

Sekretaris Jenderal PASI, Tigor Tanjung, memilih bersikap lebih realistis. Alih-alih menargetkan emas dia lebih senang jika timnya bisa memberi kejutan.

"Ya, kami itu lebih suka beri kejutan sama seperti saat Maria Londa di Asian Games 2014. Pak Hasan berkali-kali bilang bahwa kita jangan hanya berpikir senior tapi junior dan remajanya sebagai pelapis."

"Tapi kan berhasilnya Londa itu tidak instan. Dia dibentuk dari remaja naik ke junior ke senior. Jadi olahraga itu jika bicara pembinaan, soal menanam bukan memetik," jelas Tigor.

Begitu soal nomor estafet. Menurut Tigor peluang meraih emas juga relatif sulit, meski bukan berarti tak ada peluang.



"Rekornas 4x100 estafet putra itu 39,05 detik. Untuk bisa bersaing di Asian Games harus bisa dapat 38 ke bawah, bahkan tim estafet China saja bisa berlari hanya 37 detik."

"Tapi ini mudah-mudahan. Apalagi kita punya anak muda seperti Eko Rimbawan, Lalu Muhammad Zohri, dan Bayu Kertanegara. Itu darah baru. Kemudian Lalu dengan usia muda tapi bisa lari 10,25 detik. Itu kan bagus," ungkap dia.
(mcy/din)

Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed