Tatap Asian Games, Timnas Panahan Jalani Training Camp Terakhir

Tatap Asian Games, Timnas Panahan Jalani Training Camp Terakhir

Mercy Raya - Sport
Selasa, 05 Jun 2018 00:49 WIB
Tatap Asian Games, Timnas Panahan Jalani Training Camp Terakhir
Foto: Grandyos Zafna/detikSport
Jakarta - Tim nasional panahan akan melakoni training camp terakhir sebelum turun di Asian Games 2018. Mereka akan ke Surabaya kemudian Mekarsari.

Pelatih nasional Denny Trisjanto mengatakan rencana pemindahan pemusatan latihan akan dimulai pada 1 sampai 20 Juli 2018.

"Pindah ke sana karena fasilitas di sana lengkap. Kami hanya sampai 20 Juli di sana tapi setelah itu kami tidak kembali ke sini, melainkan ke Mekarsari, Jawa Barat, sampai nanti kami bisa pindah ke wisma atlet," kata Denny di sela-sela latihan di lapangan panahan Gelora Bung Karno, Senayan, Senin (4/6/2018).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Denny mengungkapkan pertimbangan memilih Mekarsari sebagai tempat kedua latihan lantaran lapangan panahan GBK, Senayan, sudah tak bisa dipakai untuk persiapan penyelenggaraan Asian Games. Ada beberapa hal yang menjadi perhatian saat berlatih di dua lokasi latihan tersebut, yakni mental, ketenangan, dan fokus atlet.

"Dan saya tak mau bertemu lawan terlebih dahulu. Yang penting nanti semua urusan lapangan ini saya selesaikan dahulu," tambahnya.

"Di sana nanti sudah H-65 Hari, 6 minggu kan ya, itu nanti psikologinya sudah tinggi, jadi saya butuh 6 minggu untuk latihan pernapasan, meditasi, sosialisasi, akurasi sasaran lebih intens," Denny menjelaskan.


"Termasuk soal ketenangan dan fokus juga. Karena melepas panah itu kan suatu keputusan, satu keputusan itu atlet harus bisa membaca iklim, menyatukan feeling, otot-ototnya. Kalau keputusannya masih muter-muter, itu akan jauh lepasnya. Ini suatu keputusan yang harus diambil oleh atlet ini adalah salah satu dari 9 step pemanah."

Denny optimistis dengan program dan sistem kepelatihan yang dijalankan timnya bisa bersaing di multievent selevel Asia.

"Di panahan juara dunia itu di Korea, ini memang berat tapi kan taruhannya memang panjang. Ketika nanti kita tak dapat medali yang ditargetkan dana yang ke PP kan dipotong. Kemudian kredibilitas saya, tim saya, dan Nur Fitriana sang peraih Olimpiade itu juga bisa dipertanyakan. Makanya ini saya anggap tantangan."


"Tidak apa-apa orang nggak berani jawab tantangan ini, tapi saya berani dengan tim, karena juara itu by design karena saya sudah punya sistem pembinaan. Artinya ketika saya ikuti sistem itu, hasilnya sudah jelas, progresnya kelihatan," ujarnya. (mcy/raw)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads