Evi dipatok untuk mempersembahkan medali emas di pesta olahraga atlet disabillitas yang digelar mulai 6-13 September. Di nomor itu, dia akan bersaing dengan atlet-atlet dengan disabilitas kaki (T42). Siswi SMA N 8 Surakarta itu antusias sekaligus gugup.
"Pastinya deg-degan. Tapi, enggak yang sampai susah tidur juga. Paling kayak ada beban saja karena ada target emas dari pelatih," kata peraih medali emas ASEAN Para Games 2017 Kuala Lumpur ini.
"Insya Allah peluang besar dan optimistis lah," kata Evi.
Kaki Evi Panjang Sebelah Sejak Lahir
Evi terlahir dalam keadaan ukuran panjang kaki yang berbeda. Kaki kirinya lebih pendek sekitar 7 cm ketimbang kaki kanannya.
Tapi, Evi tak pernah diperlakukan berbeda oleh keluarga dan lingkungannya. Dia pun percaya diri.
Jalan menjadi atlet para atletik terbuka saat Evi duduk di Sekolah Menengah Pertama. Dia diajak oleh saudaranya masuk pelatnas National Paralympic Committee (NPC).
Dari sekadar coba-coba, atlet kelahiran Boyolali, 19 Januari 2001, ini ternyata lolos seleksi. Ujian pertamanya ikut Pekan Paralimpiade Pelajar Daerah 2014.
Saat itu, Evi yang duduk di kelas dua SMP sukses mempersembahkan satu medali emas di nomor 100 meter T42. Meski berhasil, namun prestasi itu belum membuatnya berminat menjadi atlet.
"Sebenarnya belum ada minat lanjut terus tapi saat karena ada panggilan untuk klub PPLP Jawa Tengah akhirnya ikut seleksi lagi dan diterima. Mulainya 2015 lalu ke Peparnas 2016 di Jawa Barat dan saya dapat dua emas 100 meter dan lompat jauh setelah itu berlanjut sampai sekarang," kata Evi saat berbincang dengan detikSport, Rabu (19/9/2018).
Dari mulai proses seleksi, karantina, hingga mendapat banyak teman baru itu lah yang akhirnya minat anak kedua dari dua bersaudara ini kian bertumbuh. Sampai akhirnya dia jatuh cinta.
"Bisa dibilang sprint itu seperti cinta pertama saya. Makanya kalau mau jadi atlet ya sampai tidak bisa. Jika sudah tidak bisa mau jadi pelatih atletik," ujarnya kemudian tersenyum.
Motivasi Besar dari Orang Tua
Di balik kesuksesan anak ada dukungan besar dari orang-orang terdekat. Evi didukung penuh oleh orang tua. Dia juga mendapat motivasi hidup dari orang tuanya. Maka, tak heran meski terlahir berbeda ia hampir tak pernah minder.
"Kalau sampai bully sih tidak. Cuma orang kalau melihat dari atas sampai bawah begitu. Tapi, karena orang tua sudah cerita juga jadinya ya gak apa-apa lah. Walau begini tak usah berkecil hati. Apalagi orang tua juga selalu mendukung," kata ujar dia.
(mcy/fem)











































