detiksport
Follow detikSport
Kamis, 20 Sep 2018 14:57 WIB

Asian Para Games Kian Dekat, Pelatih Balap Sepeda Siaga 24 Jam

Mercy Raya - detikSport
Puspita Mustika Adya, pelatih pelatnas para-cycling (Mercy Raya/detikSport) Puspita Mustika Adya, pelatih pelatnas para-cycling (Mercy Raya/detikSport)
Jakarta - Asian Para Games 2018 kian dekat. Pelatih para-cycling atau balap sepeda disabilitas, Puspita Mustika Adya, harus siaga 24 jam menjaga mental pebalap.

Persiapan atlet para-cycling Indonesia menuju Asian Para Games masuk dalam tahap akhir. Saat ini, mereka fokus ke peningkatan mental jelang tanding.

Para-cyling mendapat jatah perlombaan mulai 8-13 Oktober di Jakarta Intenational Velodrome, Rawamangun. Indonesia yang menurunkan 14 pebalap hanya mengikuti 27 nomor event dari 28 nomor yang dipertandingkan.

Baik pebalap putra maupun putri melakoni latihan terpusat di Stadion Manahan, Solo, untuk nomor trek. Sementara untuk nomor road mereka lebih banyak menjelajah wilayah Solo sampai Boyolali, kemudian Solo-Prambanan (Klaten) sampai Piyungan (Yogyakarta). Semua dibuat dalam waktu dan hari yang berbeda.




Seperti pada Kamis (20/9/2018) pagi, M.Fadli dkk. melakukan pendinginan dari Solo sampai SPBU Boyolali kota dari mulai pukul 06.00 WIB pagi. Sementara esok, mereka kembali ke latihan di velodrome.

"Jarak itu masih enteng bagi anak-anak. Cuma enaknya ke Boyolali adalah di sana mereka bisa me-refresh, minum susu, makan, atau apapun," kata pelatih kepala parcycling Puspita Mustika Adya, saat ditemui di Hotel Alana, Solo.

Selain mematangkan teknik, hal lain yang tak kalah penting bagi para-cycling yakni mental.

"Jadi, sekarang itu, anak-anak konsentrasinya di mental. Fisiknya dijaga. Jadi istirahatnya itu harus banyak. Lombanya kapan ya dia harus tahu," lanjutnya lagi.

Persoalan mental, kata Puspita, memang susah-susah gampang. Dia harus mengetahui kapan atletnya itu sedang bad mood, ada masalah, atau malah saat normal. Puspita pun harus pintar-pintar memposisikan diri kapan sebagai pelatih, kapan dia sebagai kakak, orang tua, atau teman curhat (curahan hati).

"Makanya saya kadang-kadang nongkrong di hotel untuk melihat. Misal ada atlet yang sendirian atau apa itu, itu kita tanyakan satu persatu," ujar dia.

"Apalagi ini semakin dekat semakin banyak yang curhat. Seperti Fadli. Dia punya mental juara, jadi tahu bagaimana me-manage-nya. Tapi dia juga ada rasa gugup. Jadi nanya ini gimana pak de? Ya kami ngobrol. Jadi saya dekat bukan seperti coach. Saya gak mau mereka takut sama saya. Tapi takut lah pada program dan hasil," kata dia.

Tak cukup sampai di sana, kebiasaan-kebiasaan sederhana seperti berdoa bersama hingga tos sebelum dan selesai berlatih tak pernah absen mereka lakukan.

"Setiap pagi awali dengan doa juga tos. Lalu bergiliran berteriak para-cycling indonesia. Tapi satu kata itu saja susah. Bisa sampai 3 kali juara..juara. Ini harus untuk melatih mental mereka. Lah dia akan ketemu publik. Ntar disorakin keder. Jika dia bisa mengantisipasi itu, dia akan keluar power sebenarnya," katanya.

Simak Juga 'Persiapan Terakhir Atlet Asian Para Games':

[Gambas:Video 20detik]

(mcy/fem)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed