detiksport
Follow detikSport Linkedin share
Jumat, 15 Feb 2019 20:59 WIB

Sambangi Rumah Duka, Menpora Ajak Atlet Muda Lanjutkan Semangat Purnomo

Mercy Raya - detikSport
Menpora Imam Nahrawi menyambangi rumah duka Alm. Imam Nahrawi. Menpora Imam Nahrawi menyambangi rumah duka Alm. Imam Nahrawi.
Jakarta - Menpora Imam Nahrawi ikut berduka cita atas meninggalnya sprinter Purnomo Muhammad Yudhi. Dia berpesan agar atlet muda meneruskan semangat sang legenda.

Atlet sprinter Asia itu tutup usia pada Jumat (15/2) pukul 09.00 WIB. Purnomo meninggal karena sakit kanker hati dan dimakamkan di Tanah Kusir.

Imam hadir langsung untuk melihat sang legenda terakhir kalinya. Selain bangga, menteri asal Bangkalan itu berharap perjuangan hidup Purnomo bisa memantik atlet muda untuk lebih berprestasi.

"Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un. Kita semua berduka cita hari ini, kita semua bangsa Indonesia, masyarakat atletik, dan tentu para olimpian berdukacita atas meninggalnya bapak Purnomo," kata Imam usai melayat di rumah duka kawasan Bintaro, Tangerang Selatan, Jumat (15/2/2019).


"Seorang sprinter yang betul-betul telah menginspirasi atlet muda untuk bisa berjuang berprestasi sampai level tertingginya. Dia memulai itu dan memberi contoh. Kita berdoa almarhum mendapat tempat mulia di Allah SWT. Saya berharap keluarga yang ditinggal sabar, ikhlas, dan rela melepaskan kepergiannya," ujar dia.

"Kepada sprinter atlet muda, ayo lanjutkan perjuangan almarhum. Pasti almarhum punya cita-cita besar kelak sprinter Indonesia bisa juara di level tertinggi di multievent terbesar Olimpiade. Tentu ini harus kita lanjutkan bersama-sama. Kami berharap kepada PASI bagaimana inspirasi dan semangat almarhum jadi semangat atlet kita," kata Imam.

Di balik prestasi membanggakan Purnomo, perhatian pemerintah kepada legenda-legenda olahraga belum sepenuhnya optimal kendati sudah ada perubahan.

Imam mengatakan pemerintah sejatinya sangat ingin memperhatikan. Hal itu dibuktikan dengan memberikan apresiasi kepada legenda olahraga Indonesia pada 2017.

"Kami ingin semua diperhatikan, pemerintah ingin memperhatikan atlet-atlet dari jaman dulu sampai akan datang. Itu pernah kami lakukan ketika kita mengumpulkan para legenda, peraih medali, di Bidakara. Itu salah satu semangat yang telah ditunjukkan kami," ujarnya.

"Selebihnya tentu ini menjadi pelajaran buat kami semua bahwa atlet tak bisa dibiarkan sendirian. Baik ketika menjadi atlet atau tidak. Harus dijadikan ikon.Di sini lah peran swasta menjadikan atlet sebagai ikon dalam keberlangsungannya tidak hanya bonus, tidak hanya diangkat PNS, tapi ada hal-hal lain," dia menjelaskan.

"Saya bersyukur juga bahwa para atlet bisa lebih berkembang dan perhatian. Itu tidak boleh berhenti harus terus dilanjutkan," dia menambahkan.

(mcy/fem)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed