detiksport
Follow detikSport Linkedin share
Jumat, 12 Apr 2019 14:48 WIB

Eni Nuraini Pelatih Atletik Terbaik Asia Itu Bekas Perenang Nasional

Mercy Raya - detikSport
Eni Nuraini yang mengantarkan Lalu Muhamamd Zohri sebagai juara dunia lari 100 meter putra dulunya perenang. (Agung Pambudhy/detikSport) Eni Nuraini yang mengantarkan Lalu Muhamamd Zohri sebagai juara dunia lari 100 meter putra dulunya perenang. (Agung Pambudhy/detikSport)
Jakarta - Pelatih pelatnas untuk lari jarak pendek, Eni Nuraini, tak pernah membayangkan menjadi pelatih atletik di masa tuanya. Dulunya, dia atlet renang nasional.

Eni diganjar predikat pelatih terbaik Asia 2018 oleh Asosiasi Atletik Asia (AAA) lewat selembar surat tertanggal 4 April. Apresiasi tersebut diberikan kepada Eni atas kerja keras dan dedikasi tanpa pamrih untuk memberi prestasi kepada negara dan Asia. Penghargaan diserahkan pada Sabtu (20/4/2019).

Sepanjang karier sebagai pelatih atletik, Eni memang berhasil mengantarkan anak asuhnya menggapai prestasi internasional. Dua di antaranya Suryo Agung Wibowo, yang menjadi pemegang rekor Asia Tenggara untuk nomor lari 100 meter putra. Suryo pun mendapatkan predikat sebagai manusia tercepat Asia Tenggara hingga saat ini. Selain itu, juara dunia junior lari 100 meter Lalu Muhammad Zohri.


Selain sebagai pelatih, Eni dianggap sebagai ibu oleh anak asuhnya. Eni memang tahu benar bagaimana meperlakukan atlet. Dia seorang atlet meskipun bukan atlet atletik.

Eni merupakan perenang nasional yang juga telah memberi medali kepada Merah Putih di Asian Games 1962 dan 1965, yakni di nomor renang tim estafet putri gaya bebas dan gaya ganti.

Padahal, Eni tak pernah berimajinasi menjadi pelatih atletik. hanya saja, dia bersuka cita setiap kali melihat balapan di atas trek karet.

"Enggak (ingin menjadi atlet atletik) tapi saya senang melihat yang balapan, lari, lomba itu. Waktu 1962 kebanyakan teman saya adalah atlet atletik karena seusia, SMP. Makanya, enggak terbayang juga dari atlet renang kok tuanya jadi pelatih atletik hahaha," kata Eni saat berbincang dengan detikSport di Stadion Madya, Senayan.

Bekal kesukaannya melihat lomba maka Eni tak kesulitan ketika harus beralih dari renang ke atletik. Eni juga rajin memperbarui pengetahuan atletik, khususnya lari jarak pendek.

"Saya tak punya dasar lari. Tapi, saya suka lihat video-video teknik dasar lari. Saya perhatikan yang benar seperti apa, lalu saya banyak baca buku atletik dasar untuk menambah ilmu," dia menjelaskan.

"Dulu juga ada pelatih Bapak Bambang Wahyudi. Saya juga banyak belajar dari dia selain ada tambahan dari penataran juga," dia menambahkan.

Eni juga memiliki bekal sebagai pelatih atletik lewat cara formal. Dia memiliki lisensi kepelatihan International Association of Athletics Federation (IAAF) level 2. Pelatih berusia 72 tahun itu juga mengantongi lisensi wasit level nasional. Akreditasi itu ia dapatkan jauh sebelum dia menjadi pelatih pelatnas.

Eni yang saat itu sudah melatih klub atletik Fajar Mas Murni milik Bob Hasan di Jakarta kerap ikut suaminya, Sumartoyo Sumartodihardjo, saat menjadi wasit.

"Malah sebelum melatih di pelatnas, selama latih di klub, saya ikut penataran perwasitan. Karena suami saya wasit atletik. Saya dikenalkan teman jadi saya ikutan. Saya juga dapat lisensi wasit nasional juga," kata Eni yang sudah hampir 33 tahun sebagai pelatih atletik ini.

(mcy/fem)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed