detikSport
Follow detikSport Linkedin share
Sabtu, 05 Okt 2019 21:50 WIB

Fernando Lumain: di Pelatnas Atletik Wajib Bangun Jam 6 Pagi, di TNI AU Jam 4

Mercy Raya - detikSport
Fernando Lumain harus bangun lebih pagi saat menjadi anggota TNI AU. (dok. pribadi) Fernando Lumain harus bangun lebih pagi saat menjadi anggota TNI AU. (dok. pribadi)
Jakarta - Fernando Lumain terbiasa dengan disiplin dan latihan berat setiap hari sebagai atlet atletik. Tapi, dia harus bangun pukul 04.00 setelah menjadi anggota TNI Angkatan Udara (AU).

Nando, sapaan karib Fernando Lumain, kecil menekuni basket. Tapi kemudian dia menemukan 'rumah' baru.

Gara-garanya, Pengurus Besar Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PB PASI) mencari bibit atlet atletik datang ke daerahnya. Sekolahnya mendapatkan informasi itu dan meminta seluruh pelajar untuk mengikutinya, termasuk Fernando yang saat itu masih berusia 15 tahun.

Nando diminta tes dengan alasan sekolah sebagai salah satu ujian untuk mendapat nilai bagus.

"Saya mikir karena dapat nilai bagus ya sudah ikut padahal saat itu saya atlet basket. Kami di tes lari 100 meter dan ternyata saya lolos," kata Fernando kepada detikSport, Sabtu (5/10/2019).

Rupanya, hasil sip itu menjadi tiket Nando, yang lahir 18 Oktober 1989, untuk bergabung dengan pemusatan latihan dan menjadi salah satu atlet pelatnas PASI. Berbagai prestasi dicatatkan, salah satunya di SEA Games 2011 Jakarta di nomor estafet 4 x100 meter putra. Dia menggondol medali emas.


Nando juga sip di kejuaraan nasional, termasuk Panglima Cup, yang diselenggarakan oleh TNI dan diikuti tentara. Karena berhasil menjadi juara, kesempatan untuk menjadi TNI pun terbuka.

"Waktu itu saya juara di kejuaraan Panglima Cup makanya ditawari. Kebetulan di lingkup TNI banyak kejuaraan dan mereka membutuhkan ada atlet juga supaya prajurit punya prestasi, jadi saya ambil kesempatan itu untuk masa depan saya juga," Fernando menjelaskan.

Berbekal tawaran itu, Fernando masuk pendidikan Bentara pada 2013 selama enam bulan. Dia lulus dan kini berpangkat sersan satu TNI Angkatan Udara.

"Dari segi latihan fisik mau dibilang berat ya berat tapi karena saya atlet jadi sudah biasa. Tantangannya disiplin harus bangun pagi pukul 04.00 WIB. Menjadi atlet juga bangun pagi tapi tidak pukul 04.00 WIB juga karena latihan jam 06.00. Setelah itu, olahraga dan kegiatan pagi hari," ujar dia.

"Selain itu, gembleng ketika lari. Saya yang biasanya lari jarak 1 km, di sana digembleng lari bisa sampai 5 km, 10 km, jadi memang bagaimana membentuk kami prajurit yang tangguh seusia dengan keinginan negara," dia berkisah.

"Dengan begitu ada perubahan yang saya rasakan. Selain disiplin itu, juga bagaimana saya benar-benar diubah yang namanya arti cinta tanah air itu sendiri," katanya.

Meski menjadi tentara, Fernando tetap mendapat kepercayaan berlatih sebagai atlet di daerahnya. Tetapi jika TNI membutuhkannya dia akan siap sedia.

Termasuk pada Kejuaraan Dunia Militer bertajuk CISM di Wuhan, China, pertengahan Oktober ini. Adalah pesta olahraga yang diperuntukkan untuk tentara dan Fernando menjadi salah satu yang mewakili turun di sana di nomor atletik bersama empat pelari lainnya dari TNI AD. Dia dijadwalkan bertolak ke China pada 15 Oktober dan kembali pada akhir bulan.

"Sebelumnya saya sudah pernah ikut juga di Korea dan berhasil mencapai semifinal. Ya, semoga tahun ini lebih bagus targetnya final," dia mengharapkan.



Simak Video "Maria Londa Sumbang Perak untuk Indonesia"
[Gambas:Video 20detik]
(mcy/fem)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detiksport.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com