detikSport
Follow detikSport Linkedin share
Minggu, 08 Des 2019 16:33 WIB

Jemparingan, Olahraga Panahan Tradisional nan Kaya Filosofi

Vattaya Zahra - detikSport
Jemparingan, olahraga panahan tradisional di Yogyakarta. (Foto: Vattaya Zahra/detikcom)
Jakarta - Tim panahan Indonesia unjuk prestasi di SEA Games 2019 dengan meraih dua emas sejauh ini. Di Yogyakarta, ada olahraga panahan tradisional yang usianya ratusan tahun.

Namanya Jemparingan, yang merupakan olahraga panahan tradisional di Yogyakarta. Tapi lebih dari soal olah fisik, Jemparingan juga menekankan nilai-nilai pengembangan karakter.

"Jemparingan melatih kita untuk mengenal diri. Seperti melawan amarah dan nafsu duniawi," ungkap Kris Budiharjo, humas Paseduluran Jemparingan Langenastro ketika ditemui detikcom, Rabu (4/12/2019) sore.

"Sifat ksatria yang sebenarnya ada pada para abdi dalem. Yaitu fokus (nyawiji), penuh penghayatan (greget), percaya diri (sengguh) dan tidak gentar (ora mingkuh)," katanya.


Setiap Selasa dan Sabtu, Kris berlatih jemparingan bersama para abdi dalem Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Ia bercerita bahwa Jemparingan memang ditujukan untuk membentuk karakter para abdi dalem, tetapi kemudian juga berkembang di masyarakat.

Olahraga klasik ini juga mengajarkan etika, mulai dari sopan santun (unggah ungguh) dan cara berpakaian.

"Misalnya dari pakaian, yang benar itu pakai surjan atau kebaya hitam, blangkon atau udeng (ikat kepala) dan jarik. Jarik juga harus dilipat dengan benar," ujar Kris.

Salah satu yang membedakan Jemparingan dengan panahan pada umumnya adalah sasarannya. Sasaran dalam jemparingan disebut bandul, berjarak 30 meter dari posisi pemanah. Bandul terbuat dari ikatan jerami sepanjang 30 cm berwarna merah di bagian atas dan putih pada bagian tengahnya, ia digantung menggunakan tali.

"Merah itu namanya mustaka, nilainya 3. Artinya amarah. Kalau kena yang putih, itu awak, nilainya 2. Artinya badan. Bandul mewakili diri kita. Jadi orang memanah itu mengalahkan egonya sendiri," kata Kris. Warna merah memiliki nilai paling tinggi karena manusia paling sulit melawan amarah.

Sementara Jemparingan gaya Mataram di Keraton Yogyakarta menggunakan bandul dengan warna kuning di antara merah dan putih, plus bola di bagian bawah.

Warna kuning berarti nafsu harta benda dan bola melambangkan nafsu seksual. Bola tidak boleh menjadi target dalam jemparingan. Kris juga menjelaskan, busur (gendhawa) dibuat berdasarkan karakter pemanahnya.


"Misalnya orangnya itu terlalu semangat dan selalu berapi-api. Nah aku akan buat busur yang nggak bisa lari kencang. Supaya meredam sifatnya. Kebalikannya, kalau orangnya lemah lembut, aku buat busur yang bisa lari kencang. Jadi untuk mengimbangi," lanjutnya.

"Panjang busur harus berukuran setinggi badan pemanah. Busur yang terlalu pendek, ketika ditarik itu terlalu melengkung jadi bisa patah," kata Kris, sembari menambahkan bahwa busur harus dibuat dengan bahan alami seperti kayu sawo, sono, dan jati.

Bahan kayu sawo punya karakteristiknya tersendiri. Getah yang mengering akan menyebabkan busur menjadi lebih berat, yang berarti minim getaran saat meluncur. Sedangkan kayu jati tidak disarankan untuk dibuat busur karena mudah patah.

Karena nilai-nilai di dalamnya itu, sebagian orang tertarik mengenalkan Jemparingan ke anak-anak.

"Panahan itu kan dan dari 'manah' ya, artinya hati dalam bahasa Jawa. Jadi kita belajar mengolah rasa," ujar Agus, pendamping di Jemparingan Langenastro yang mengadakan latihan setiap Rabu dan Sabtu, mulai pukul 16.00 WIB hingga 18.00 WIB.

"Di sini juga diajarkan etika, misal anak datang itu pasti salam ke semua (orang) yang sudah datang," ungkap Dian Pithaloka, wali murid salah seorang kesatria alit (sebutan untuk pemanah cilik) ketika ditemui, Sabtu (7/12/2019) kemarin.

Jemparingan, Olahraga Panahan Tradisional nan Kaya FilosofiFoto: Vattaya Zahra/detikcom

"Keponakan saya yang rumahnya di Prambanan ikut juga, selalu semangat walau rumahnya jauh. Anak-anak jadi punya rasa persaudaraan yang tinggi. Mereka nggak menganggap teman mereka itu musuh (dalam pertandingan)," imbuhnya. Anak perempuan Dian yang duduk di kelas tiga SD kini sudah dua tahun berlatih Jemparingan.

Lalu sejak kapan Jemparingan ada? Kris menyebut bahwa Jemparingan berusia nyaris sama dengan Keraton Yogyakarta yang berdiri sekitar tahun 1755 silam.

"Jemparingan dikembangkan oleh Sultan Hamengkubuwono I, ditujukan untuk semua orang, baik laki-laki maupun perempuan. Jemparingan Langenastro mengenalkan panahan Keraton Yogya ke luar. Kalau di Keraton Yogya itu para abdi dalem masih menggunakan teknik yang lama, atau gaya Mataram (Gagrak Mataram Ngayogyakarta)," jelas Kris.

Perbedaan gaya Jemparingan ada pada posisi busur. Gaya Mataram menggunakan posisi busur tidur (horisontal), sedangkan di luar Keraton Yogya posisi busurnya miring (diagonal). Posisi busur tersebut dapat memengaruhi arah tali busur ketika melepas anak panah. Jika posturnya tidak tepat, pemanah dapat melukai tangannya karena tali busur yang meleset.

Hingga saat ini, ada 36 paseduluran jemparingan di Provinsi DIY. Sedangkan di Klaten ada 26 dan Solo sebanyak 35. Paseduluran jemparingan terus berkembang didasari oleh nilai-nilai kekeluargaan, bukan mengejar prestasi semata.

Simak Video " Hore! Jokowi Bakal Kasih Bonus Buat Atlet SEA Games"
[Gambas:Video 20detik]
(raw/fem)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detiksport.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
d'Mentor
×