detikSport
Follow detikSport Linkedin share
Kamis, 05 Mar 2020 19:48 WIB

Harus Ada Studi Kelayakan Sebelum Gelar Formula E

Putra Rusdi K - detikSport
BERLIN, GERMANY - MAY 25: In this handout from FIA Formula E -  Alexander Sims (GBR) BMW I Andretti Motorsports, BMW iFE.18 at Tempelhof Airport on May 25, 2019 in Berlin, Germany. (Photo by FIA Formula E/Handout/Getty Images) Foto: (Getty Images)
Jakarta -

Pihak penyelenggara Formula E diwajibkan membuat studi kelayakan dan analisis masalah dampak lingkungan, sebelum penyelenggaraan even tersebut.

Hal itu disampaikan anggota Tim Asistensi Komisi Pengarah Pembangunan Kawasan Medan Merdeka Yayat Supriatna di Gedung Manggala Wanabakti, Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup, pada Rabu (5/3/2020), seusai pertemuan Tim Asistensi dengan pihak Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan PT Jakarta Propertindo (Jakpro).

"Pada pertemuan tadi, kami tegaskan bahwa sebelum menggelar pelaksaan balapan Formula E, pihak penyelenggara wajib menjalankan studi kelayakan dan analisis mengenai dampak lingkungan," ujar Yayat Supriatna dalam rilis yang diterima detikcom, Kamis (5/3/2020).

Yayat menjelaskan kewajiban tersebut tertuang dalam Pasal 53 dan 86 UU Nomor 11/2010 tentang Cagar Budaya.

Pasal 53 ayat 1 bunyinya adalah Pelestarian Cagar Budaya dilakukan berdasarkan hasil studi kelayakan yang dapat dipertanggungjawabkan secara akademis, teknis, dan administratif.

Adapun Pasal 86 UU tersebut menyatakan, pemanfaatan yang dapat menyebabkan terjadinya kerusakan wajib didahului dengan kajian, penelitian, dan/atau analisis mengenai dampak lingkungan.

Anggota Tim Asistensi yang lain, Bambang Hero Saharjo, menambahkan, pihak Komisi Pengarah hingga saat ini belum menerima satu pun studi kelayakan berkaitan dengan penyelenggaran Formula E maupun revitalisasi kawasan Monas.

"Tetapi, kegiatan persiapan penyelenggaraan balapan tersebut, seperti kita lihat, sudah dilakukan," ujarnya.

Lantaran belum ada studi kelayakan dan amdal, Tim Asistensi menyatakan tak boleh dilakukan pengaspalan, maupun revitalisasi Kawasan Monas, misalnya penebangan pohon.

Selanjutnya, studi kelayakan yang sudah diajukan akan dinilai oleh Tim Cagar Budaya Nasional.

"Tim Cagar Budaya Nasional inilah yang akan memutuskan, apakah penyelenggaraan balapan Formula E dan Revitalisasi Kawasan Monas bisa diberikan izin atau tidak," ucap Yayat.



Simak Video "Pakai Joki di Formula E Virtual, Pembalap Audi Diputus Kontrak"
[Gambas:Video 20detik]
(pur/rin)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detiksport.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com