detikSport
Follow detikSport Linkedin share
Senin, 04 Mei 2020 19:43 WIB

Berstatus Olimpian, Eko Yuli Tetap Bersiap Tampil di PON 2020

Mercy Raya - detikSport
Eko Yuli Irawan menyegel medali emas dari angkat besi di kelas 61 kg putra SEA Games 2019 Filipina, Senin (2/12). Berstatus Olimpian, Eko Yuli Tetap Bersiap Tampil di PON 2020. (Foto: Grandyos Zafna)
Jakarta -

Lifter Eko Yuli Irawan berencana turun di Pekan Olahraga Nasional (PON) 2020 tahun depan. Keikutsertaannya karena tak ada aturan khusus yang melarang olimpian turun di level nasional

PON idealnya menjadi ajang persaingan bibit-bibit muda dan baru setelah sekian bulan dibina daerah. Hasilnya, akan menjadi pertimbangan untuk masuk pelatnas.

Namun, atlet-atlet top pun tetap dan masih turun di multiajang olahraga empat tahunan tersebut. Eko, misalnya. Lifter dengan pengalaman tiga kali Olimpiade tersebut dan juara dunia, masih mau tampil di level nasional. Tahun ini dia memperkuat Jawa Timur.

"Intinya tetap sama. PON kalau bagi teman-teman yang tak punya kesempatan pelatnas ini eventnya mereka. Jadi kalau mau cari rezeki di sini. Nah, bagi saya, kenapa kok sudah medali Olimpiade tapi ikut terjun PON karena tidak ada aturannya (yang tidak membolehkan)," kata Eko dalam perbincangan dengan detikSport lewat sambungan telepon, Senin (4/5/2020).

"Di sisi lain, alasan kami sama. Di PON anggap saja sebagai seleksi. Justru di PON ini waktunya dipersiapkan dengan baik oleh daerah. Kalau di luar PON mana ada? Mungkin pembinaan daerah yang bagus saja yang bisa diberangkatkan atau disiapkan dari jauh-jauh hari. Kalau daerah yang tak bagus pembinaannya, hanya memanfaatkan peluang lolos di PraPON. Jadi secara tak langsung atlet-atlet ini siap bertanding, otomatis prestasi juga tak abal-abal," ucap dia.

Alasan lain, peraih medali emas Asian Games 2018 ini merasa belum ada penerusnya yang benar-benar jadi penggantinya. Di kelas 61 kg, Eko sebenarnya sudah memiliki penerus, Muhammad Fathir, meskipun untuk angkatan totalnya masih terlampau jauh. Angkatan total terbaik Eko 317 kg di Kejuaraan Dunia 2018, sementara Fathir 273 kg di Kejuaraan Asia Junior.

"Kalau pun umpama seperti (ada statement) kemarin, 'kasih kesempatan dong juniornya'. Buat apa? Kalau kita kasih mereka, ya, ayo kalahkan dulu jagoannya supaya dia bisa naik peringkat. Umpama Muhammad Fathir bisa mengalahkan Eko, otomatis medali Olimpiade di tangan. Tapi kalau tidak bisa, jangan harap ada penerus atau penggantinya Eko, karena Eko jadi patokan sekarang," ujarnya.

"Toh, selama ini event untuk atlet remaja juga banyak seperti Asian Youth Games, Olympic Games. Jadi jangan bilang PON atau SEA Games jadi jam terbang atlet muda. Jangan. Stigmanya yang harus diubah."

Andai ada aturan yang melarang pun, sebut Eko, perlu dicari solusi untuk atlet seniornya. Selama ini, selain uang saku, bonus dari multievent juga menjadi sokongan atlet senior untuk menjalani hari-hari ke depan.

"Senior harusnya punya harapan juga dari pemerintah. Semisal tidak bisa ikut SEA Games atau PON, ada tidak bonus untuk kejuaraan dunia atau juara Asia dari pemerintah. Bisa tidak disamakan dengan SEA Games. Ya, maaf bilang kami juga butuh hidup kali."

"Di luar dugaan medali emas SEA Games Rp 500 juta, ya males pensiun. Kan begitu. Lebih baik pertahankan emas saja. Jadi jangan memberi statment seperti itu kalau bukan peraturan dari penyelenggara. Kalau mau buat aturan sendiri, hargai juga untuk single eventnya," ujarnya.



Simak Video "Rapim TNI-Polri, Bahas Pengamanan Pilkada Hingga PON 2020 "
[Gambas:Video 20detik]
(mcy/krs)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detiksport.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com