Kisah Citra Febrianti dan Perak Olimpiade 2012 yang Tertunda

Mercy Raya - Sport
Senin, 21 Des 2020 17:15 WIB
LONDON, ENGLAND - JULY 29:  Citra Febrianti of Indonesia competes in the Womens 53kg Weightlifting on Day 2 of the London 2012 Olympic Games at ExCeL on July 29, 2012 in London, England.  (Photo by Laurence Griffiths/Getty Images)
Kisah Citra Febrianti dan Perak Olimpiade 2012 yang Tertunda (Getty Images/Laurence Griffiths)
Jakarta -

Lifter Citra Febrianti senang bukan main. Penantian selama delapan tahun untuk mendapatkan hak bonus peraih medali perak Olimpiade 2012 berakhir manis.

Dia menerima bonus Rp 400 juta dari Menteri Pemuda dan Olahraga, Zainudin Amali, pada acara pemberian penghargaan di Wisma Kemenpora, Senin (21/12/2020).

Bagi Citra, penghargaan ini sekaligus pengakuan dirinya ialah peraih medali perak Olimpiade 2012 dan dia berterima kasih pada semua pihak yang telah membantunya.

"Pertama-tama, syukur Alhamdullilah akhirnya saya bisa menunjukkan kebenaran bahwa saya naik peringkat dan diakui sebagai peraih medali perak Olimpiade 2012," kata Citra dalam keterangan resminya,

"Ini menjadi prestasi terakhir yang bisa saya berikan untuk Indonesia karena saya sudah tidak bisa lagi bertanding karena cedera yang sampai sekarang belum pulih," dia menambahkan.

Citra FebriantiKetua KOI Raja Sapta Oktohari dan Citra Febrianti (dok KOI)

Diceritakan Citra Febrianti, bahwa momen ini merupakan penantian yang sudah lama ditunggu-tunggu. Pasalnya, tak lama setelah pertandingan berakhir, Citra sebetulnya telah mendengar dirinya akan mendapat medali perunggu karena atlet Moldova, Cristina Iovu, yang menempati peringkat tiga, menghindari kewajiban tes doping.

Tapi ternyata posisinya tidak berubah hingga kontingen pulang ke tanah air. Empat tahun berselang, federasi angkat besi internasional (IWF) mengumumkan bahwa peraih medali emas kelas 53kg putri, Zulfiya Chinshanslo dari Kazakhstan dan Iovu, yang menempati peringkat tiga, didiskualifikasi. Keduanya kedapatan positif doping.

Citra yang mengetahui kabar tersebut langsung bergegas menanyakan perkembangan kepada PB PABBSI (nama sebelum akhirnya federasi untuk angkat besi, binaraga, dan angkat berat itu dibubarkan dan mendirikan induk organisasi masing-masing).

Setelah menunggu dua tahun, atlet asal Lampung ini meminta sang kakak untuk membuat laporan.

"Saya sudah kehilangan kesabaran karena faktor ekonomi, sehingga saya minta tolong pada kakak saya yang ada di Jakarta untuk membuat surat ke Kemenpora, KONI, dan KOI. Tapi tetap tidak ada hasil. Akhirnya pada 2019, saya mendatangi media dengan harapan suara saya bisa terdengar. Tapi hasilnya sama saja," sesalnya.

Kondisi ekonomi Citra makin diperburuk dengan adanya pandemi COVID-19 yang berkepanjangan. Ia lantas memutuskan pergi ke Jakarta guna mencari tahu sejauh mana proses pengurusan medali peraknya.

"Saat sampai di Jakarta, saya bingung sekali, tidak tahu harus ke mana karena tidak ada arahan. Akhirnya saya disarankan ke PB PABSI. Di sana, Pak Joko Pramono bilang sudah membuat laporan dan masih menunggu keputusan resmi dari IOC," dia menjelaskan.

"Saya pun bertanya siapa yang punya wewenang untuk menghubungi IOC dan dijawab bahwa KOI yang berwenang menghubungi IOC."

Citra pun akhirnya mendatangi kantor KOI bersama suami dan kedua anaknya pada 4 November 2020 dan diterima Wakil Sekretaris Jenderal Wijaya M. Noeradi.

"Hari itu juga langsung diproses oleh KOI. Tidak butuh waktu lama. Pak Okto langsung menghubungi IOC dan dalam waktu dua minggu hasil resminya sudah keluar dan sekarang saya mendapatkan hak saya," katanya.

"Saya bersyukur dan berterima kasih kepada pemerintah, Menpora, dan juga Komite Olimpiade Indonesia yang telah membantu saya mewujudkan hasil ini," ucap Citra.

(mcy/aff)