Dilema Atlet Olimpiade Antara Kebanggaan dan PPKM Darurat

Mercy Raya - Sport
Kamis, 01 Jul 2021 20:05 WIB
Setelah sempat tertunda selama satu tahun akibat COVID-19, bulan depan Olimpiade Tokyo akan digelar.
Dilema Atlet Olimpiade Antara Kebanggaan dan PPKM Darurat (Getty Images)
Jakarta -

Mohammad Ahsan menyebut pelepasan kontingen secara langsung akan beri kebanggaan bagi atlet menuju Olimpiade. Tapi sayangnya kini kasus Corona lagi tinggi.

Dalam waktu 22 hari lagi, olahraga di dunia akan menyambut pesta akbar terbesar di dunia, yaitu Olimpiade. Di multievent tersebut, Indonesia telah meloloskan 28 atlet dari delapan cabang olahraga.

Namun, imbas lonjakan kasus COVID-19 yang meningkat pekan terakhir membuat pemerintah menerapkan aturan ketat khususnya bagi masyarakat Jawa-Bali.

Dampaknya pun turut mempengaruhi persiapan atlet menuju Olimpiade. Salah satunya ketidakjelasan pengukuhan dan pelepasan kontingen Indonesia menuju Tokyo.

Sebab, sampai kini Kemenpora masih belum memutuskan kapan waktu pengukuhan untuk atlet Olimpiade, meskipun Komite Olimpiade Indonesia (KOI) sudah mengusulkan digelar 5 Juli mendatang. Kemenpora menunggu respons dari Presiden RI Joko Widodo. Lantas bagaimana respons atlet?

"Saya juga masih bingung. Sebab, kalau mau pengukuhan atau pelepasan juga kan artinya bisa jadi kerumunan juga, sedangkan COVID-19 sekarang lagi ganas-ganasnya," kata Ahsan kepada detikSport, Kamis (1/7/2021).

Tapi di sisi lain, Mohammad Ahsan tak menepis pelepasan secara langsung akan memberikan kesan berbeda bagi atlet.

"Ya, pasti beda pride-nya pelepasan secara online dengan langsung di lokasi. Tapi mau bagaimana keadaan lagi begini. Ditambah lagi akan ada PPKM darurat," ujar pebulutangkis ganda putra ini.

Indonesia's Mohammad Ahsan (L), next to Indonesia's Hendra Setiawan, returns a shuttlecock to Japan's Yugo Kobayashi and Japan's Takuro Hoki during of their men's doubles final game at the BWF Badminton World Championships at the St Jakobshalle in Basel on August 25, 2019. (Photo by FABRICE COFFRINI / AFP)Mohammad Ahsan (Fabrice Coffrini/AFP)

Hal serupa diungkapkan lifter Eko Yuli Irawan. Ia mengatakan sekalipun pengukuhan dan pelepasan dilakukan tatap muka pasti menerapkan protokol kesehatan (prokes) superketat.

"Jika acaranya offline pasti akan di PCR/Swab terlebih dulu. Apalagi jika pelepasannya di Istana seperti multievent sebelumnya pasti prokesnya juga ketat. Atlet, pelatih, dan official yang berangkat ke Olimpiade tidak banyak jadi bisa menjaga jarak seperti saat menteri-menteri dilantik," kata Eko.

Meski begitu, Eko tidak menampik status Darurat PPKM di Jakarta-Bali yang akan diterapkan mulai 3-20 Juli berpotensi membuat agenda pengukuhan dan pelepasan dilakukan secara daring. Ia berharap Presiden RI Joko Widodo serta masyarakat Indonesia dapat memberi dukungan dan doa terhadap dirinya dan atlet-atlet yang berjuang di Olimpiade Tokyo.

"Saya sih ingin mulai sekarang sudah ada scereening. Jika negatif tetap harus dikarantina sampai keberangkatan," kata Eko.

(mcy/aff)