Perubahan Angin Ekstrem Jadi Penyebab Kekalahan Arif Dwi

Mercy Raya - Sport
Selasa, 27 Jul 2021 18:25 WIB
Arif Dwi Pangestu mengungkap alasan terhenti di babak 32 besar panahan putra Olimpiade Tokyo 2020.
Arif Dwi Pangestu terkendalan kencangnya angin hingga gagal melaju jauh di panahan Olimipiade Tokyo 2020. (Foto: dok.KOI)
Tokyo -

Atlet panahan Indonesia Arif Dwi Pangestu kecewa usai tersingkir di babak 32 besar Olimpiade Tokyo 2020. Kondisi angin yang berubah membuat kosentrasinya buyar.

Tampil di Yumenoshima Archery Park Field, Tokyo, Jepang, Selasa (27/07/2021), Arif dikalahkan wakil Jerman Florian Unruh pada pertandingan babak pertama recurve perorangan putra.

Arif Dwi gagal lanjut ke 16 besar setelah membukukan skor 2-6 (24-28, 28-26, 24-28, 25-27) dari Unruh.

Menurut Arif, faktor kekalahannya disebabkan angin ekstrem yang berubah-ubah sehingga menganggu konsentrasinya. Sebagai informasi, badai taifun menghampiri Tokyo sejak 03.00 dini hari hingga siang waktu setempat.

"Anginnya kencang dan berubah-ubah. Terkadang ke kanan dan juga ke kiri. Cuaca esktrem sangat terasa ke badan dan kontrol tangan kiri juga sangat berbeda. Tapi, pas latihan soalnya cuaca mendung seperti kayak antara hujan apa nggak. Kalaupun terjadi hujan mungkin lebih susah lagi," kata Arif Dwi Pangestu dalam keterangan tertulisnya.

"Tadi anginnya sempat agak cepat juga sehingga berubah konsentrasi. Kalau badai ya pasti anginnya besar banget kan, tetapi ini bukan badai, jadi kayak ya bingung bingung bagaimana gitu. Itu sangat mempengaruhi konsentrasi karena waktu latihan juga tidak pernah kena angin seperti itu. Baru kali ini anginnya seperti itu," dia menjelaskan.

"Pada sesi terakhir saya juga kurang cermat, jadi lawan ya lebih cepat menyelesaikan. Karena, dia lebih enak main di mana lebih dulu menemukan tempat," akunya.

Sementara itu, pelatih tim panahan Indonesia, Permadi mengatakan Arif sudah berusaha semaksimal mungkin untuk bisa meraih hasil terbaik. Dia menilai wajar Arif Dwi masih belum bisa konsetrasi menghadapi kondisi cuaca yang ekstrem. Selain usia yang masih muda, Olimpiade Tokyo sekaligus menjadi debutnya di pesta olahraga terakbar paling bergensi sedunia ini.

"Arif sudah berusaha semaksimal mungkin tapi kita tidak bisa membohongi ini kan pertama tampil. Ini luar biasa karena Arif itu belum pernah ikut PON langsung ikut Olimpiade. Jadi, kalau dilihat sih memang kita perlu banyak event untuk atlet panahan ini supaya bisa menyesuaikan di kondisi-kondisi yang memang ekstrem," katanya.

Pengalaman Arif menghadapi cuaca ekstrim ini, kata Permadi, akan menjadi pekerjaan rumah (PR) bagi pelatih dan pembina pelatnas untuk menghadapi berbagai event internasional maupun Olimpiade 2024 Paris.

"Selama ini kita latihan di Jakarta. Sepertinya, kita perlu mencari tempat latihan lain dengan cuaca hujan barangkali panas atau dingin. Ini sangat perlu karena ini adalah bahan medali untuk 2024 di Paris nanti, Usia Arif itu masih sangat muda 17 tahun. Mudah-mudahan di Olimpiade berikutnya Arif akan kembali tampil dan meraih prestasi lebih baik," kata Permadi.

(mcy/cas)