8 Fakta Rahmat Erwin, Peraih Perunggu Olimpiade Tokyo 2020

Mercy Raya - Sport
Jumat, 30 Jul 2021 17:29 WIB
TOKYO, JAPAN - JULY 28:  Bronze medalist Rahmat Erwin Abdullah of Team Indonesia poses with the bronze medal during the medal ceremony for the Weightlifting - Mens 73kg Group A on day five of the Tokyo Olympic Games at Tokyo International Forum on July 28, 2021 in Tokyo, Japan. (Photo by Chris Graythen/Getty Images)
8 Fakta Rahmat Erwin Abdullah, si peraih perunggu Olimpiade Tokyo 2020. (Foto: Getty Images/Chris Graythen)
Jakarta -

Sejak sukses meraih medali perunggu di Olimpiade Tokyo 2020, Rahmat Erwin Abdullah menjadi bintang baru Indonesia. Ini fakta-fakta mengenai lifter 20 tahun itu.

Ia menjadi kuda hitam yang memberi kejutan di kelas 73 kg cabang olahraga angkat besi Olimpiade Tokyo 2020. Rahmat berhasil membukukan angkatan total 342 kg, yang terdiri dari 152 kg angkatan snatch dan 190 kg untuk angkatan clean and jerk.

Torehan angkatan itu sekaligus mempertajam rekor angkatan terbaiknya. Sebelumnya, Rahmat memiliki angkatan snatch terbaik 148 kg dan 187 kg clean and jerk. Dengan penambahan beban 7 kg di kedua angkatan itu, total angkatan Rahmat yang tadinya 335 kg naik menjadi 342 kg.

Padahal sebelumnya, Rahmat hanya dipatok target menembus delapan besar. Pertimbangannya karena ia baru pertama kali tampil di Olimpiade, selain itu persaingan di kelas 73 kg sangat ketat.

Bahkan, Rahmat sempat mengalami cedera hamstring pada saat sesi latihan untuk angkatan clean and jerk. Tapi lifter asal Makasar itu mampu membuktikan hal itu bukan halangan.

Menariknya, di luar itu banyak fakta-fakta lainnya yang diungkapkan Rahmat Erwin dalam program Blak-blakan yang tayang di detik.com, Jumat (30/7/2021). Apa saja?

Berikut 8 fakta tentang Rahmat Erwin:

1. Anak tunggal dari ayah-ibu lifter nasional berprestasi.

Keahlian Rahmat Erwin mengangkat besi ternyata bukan sekadar coba-coba. Rahmat memiliki darah olahragawan yang begitu kental. Ayah dan ibunya ialah seorang lifter yang pernah berjaya pada masanya.

Ayahnya, Erwin Abdullah, merupakan peraih medali perak Asian Games di Busan 2002, serta merupakan olimpian Athena 2004. Tapi saat itu, ayahnya batal tampil di Olimpiade karena cedera.

Sementara ibunya, Ami Asum Budiono, merupakan atlet angkat besi yang meraih medali emas di SEA Games 1995 di Thailand, serta peraih medali perak di Kejuaraan Asia di Busan.

2. Meraih medali sejak usia 13 tahun

Rahmat sejak kecil memiliki potensi sebagai atlet angkat besi. Ayahnya yang kerap membawanya ke pemusatan latihan sehingga setiap teknik dan latihan angkat besi tertanam di benaknya.

Ayahnya yang melihat itu kemudian mengasah kemampuan Rahmat sejak duduk di bangku Sekolah Dasar (SD). Hasilnya, Rahmat meraih medali perunggu di kejuaraan perdananya di Bali. Kemudian kejuaraan berikutnya, Rahmat meraih medali emas.

3. Mengumpulkan poin sejak 2018 supaya lolos Olimpiade

Sebelum tampil di Olimpiade, Rahmat lebih dulu berjuang untuk mengumpulkan poin Olimpiade sejak 2018. Sistem perhitungan poin yang berubah membuatnya harus lebih bekerja keras untuk bisa lolos dengan mengumpulkan poin dari setiap kejuaraan yang ia ikuti.

Namun persaingan yang ketat di kelas 73 kg, belum mampu membuatnya menembus delapan besar race to Tokyo. Tapi, Rahmat masih bisa tampil di Olimpiade melalui jalur kontinental. Ia menempati peringkat 11 race to Tokyo.