8 Fakta Rahmat Erwin, Peraih Perunggu Olimpiade Tokyo 2020

Mercy Raya - Sport
Jumat, 30 Jul 2021 17:29 WIB
TOKYO, JAPAN - JULY 28:  Bronze medalist Rahmat Erwin Abdullah of Team Indonesia poses with the bronze medal during the medal ceremony for the Weightlifting - Mens 73kg Group A on day five of the Tokyo Olympic Games at Tokyo International Forum on July 28, 2021 in Tokyo, Japan. (Photo by Chris Graythen/Getty Images)
8 Fakta Rahmat Erwin Abdullah, si peraih perunggu Olimpiade Tokyo 2020. (Foto: Getty Images/Chris Graythen)

4. Penyuka ular Phyton dan Kucing

Selain berhasil mengatasi beratnya besi, Rahmat ternyata juga punya kesukaan terhadap reptil. Ia bahkan pernah mengabadikan foto tengah dibelit ular phyton berusia tujuh tahun, yang merupakan peliharaan sang ayah.

Selain ular, Rahmat juga menyukai kucing namun karena ayahnya memiliki sensitifitas terhadap bulu kucing dan perawatan yang sulit sehingga ia memutuskan tak memelihara.

5. Tak bisa makan cepat karena sakit maag

Rahmat memiliki kebiasaan unik. Ia termasuk atlet yang membutuhkan waktu lama saat makan. Selain ingin menikmati makanan, Rahmat ternyata jug apunya riwayat sakit maag. "Maag saya bisa kambuh jika terlalu cepat masuk makanan," ucap Rahmat.

6. Tak terlalu suka karbohidrat, termasuk nasi

Meskipun punya badan berotot dan mampu mengangkat ratusan kilo besi, Rahmat ternyata jarang mengonsumsi makanan berkabohidrat, seperti nasi. Ia biasa menggantinya dengan mengasup protein setiap pagi.

Rahmat memiliki Kebiasaan unik lainnya yaitu sarapan dengan hanya mengonsumsi 8-10 butir putih telur rebus.

Selain tidak suka makanan berkarbohidrat, Rahmat juga hanya mengonsumsi sayur dan daging saat makan siang dan malam.

7. Rahmat Ingin kuliah di sastra Inggris.

Sastra Inggris menjadi idaman Rahmat saat berkuliah. Tapi, dia juga tak akan menolak jika ada yang menawari beasiswa, namun Rahmat akan lebih dulu mendiskusikan dengan orang tuanya mengingat padatnya waktu latihannya.

8. Rahmat Pernah Jadi Mahasiswa UNJ

Rahmat mengaku pernah masuk kuliah di jurusan keolahragaan di Universitas Negeri Jakarta (UNJ) tapi berhenti karena bentrok dengan waktu latihan.

Ia keteteran menjalani keduanya secara bersamaan karena beratnya latihan. Setiap hari, dia menghabiskan waktu latihan empat sampai lima jam yang dibagi dalam dua sesi dalam pekan berat. Setelah latihan biasanya ia tak bisa melakukan kegiatan lain selain beristirahat.


(mcy/cas)