Tudingan Teroris buat Atlet Peraih Emas Cabang Menembak Ini

Tim detikcom - Sport
Sabtu, 31 Jul 2021 19:50 WIB
Javad Foroughi, of Iran, competes in the mens 10-meter air pistol at the Asaka Shooting Range in the 2020 Summer Olympics, Saturday, July 24, 2021, in Tokyo, Japan. Foroughi went on to win the gold medal. (AP Photo/Alex Brandon)
Javad Foroughi, atlet peraih emas yang dituding teroris. Foto: AP/Alex Brandon
Jakarta -

Atlet Menembak Iran, yang meraih medali emas Olimpiade Tokyo 2020, mendapat tudingan teroris dari salah satu pesaingnya. Bahkan organisasi Hak Asasi Manusia (HAM) di negaranya pun ikut melontarkan tudingan serupa.

Javad Foroughi berjaya dan meraih medali emas cabang Menembak di 10 Meter Air Pistol Putra. Tapi keberhasilannya itu digugat oleh atlet Korea Selatan Jin Jong-oh.

Legenda menembak dari Negeri Ginseng itu mempertanyakan keterlibatan Javad Foroughi, yang disebutnya sebagai 'teroris'. Jin juga mempertanyakan Komite Olimpiade Internasional (IOC) yang mengizinkan Javad berpartisipasi.

"Bagaimana bisa seorang teroris jadi pemenang pertama? Itu adalah hal paling absurd dan konyol," kata Jin seperti dikutip Metro.co.uk dari laporan Korean Times.

Javad Foroughi sendiri disebut sebagai anggota dari Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC), yang pada tahun 2019 dilabeli sebagai teroris oleh Amerika Serikat.

Rupanya Jin juga tidak sendirian dalam mempertanyakan keberadaan Javad Foroughi di Olimpiade Tokyo 2020. Sebuah organisasi HAM di Iran, United for Navid, juga merilis pernyataan yang minta IOC mencopot medali Javad Foroughi.

ASAKA, JAPAN - JULY 24: Gold Medalist Javad Foroughi of Team Iran poses on the podium following the 10m Air Pistol Men's event on day one of the Tokyo 2020 Olympic Games at Asaka Shooting Range on July 24, 2021 in Asaka, Saitama, Japan. (Photo by Kevin C. Cox/Getty Images)Javad Foroughi dan medali emasnya. Foto: Getty Images/Kevin C. Cox

"Kami menganggap medali emas Olimpiade ke atlet menembak Iran Javad Foroughi bukan cuma malapetaka buat olahraga Iran tapi juga untuk komunitas internasional dan reputasi IOC."

"Foroughi, yang kini berusia 41 tahun, masih dan sudah lama jadi anggota organisasi teroris. IRGC punya sejarah kekerasan dan membunuh bukan cuma orang Iran dan pendemo di sini, tapi juga orang-orang tak bersalah di Suriah, Irak, dan Libanon. AS menganggapnya sebagai organisasi teroris asing."

"Kami menuntut penyelidikan sesegera mungkin oleh IOC, dan pencabutan medali sampai dengan penyelidikan itu tuntas," sebut United for Navid, yang juga mengingatkan IOC bahwa tindakan tidak tepat untuk kemenangan Foroughi di Olimpiade Tokyo 2020 bisa bermakna mempromosikan terorisme dan tindak kejahatan.

(krs/mrp)