Pembukaan PON Papua Nanti Tidak Mewah, Menpora Ungkap Alasannya

Mercy Raya - Sport
Jumat, 24 Sep 2021 16:55 WIB
Menpora Zainudin Amali
Menpora Zainudin Amali (Foto: dok Kemenpora)
Jakarta -

Pelaksanaan pembukaan Pekan Olahraga Nasional (PON) Papua XX dipastikan tidak semewah biasanya. Situasi yang masih bergantung dengan pandemi COVID-19 menjadi faktornya.

Konsep opening ceremony multicabang olahraga empat tahunan itu sempat diwacanakan bakal dibuat setara dengan Asian Games. Tapi rencana itu kemungkinan sulit terlaksana karena kondisi Indonesia yang masih berjuang dengan COVID-19.

Meski begitu, penyelenggaraan yang rencananya bergulir di Stadion Lukas Enembe pada 2 Oktober ini, bukan berarti dibuat seadanya. Menpora Zainudin Amali memastikan pembukaan PON bakal tetap berjalan hikmat bagi setiap orang yang menyaksikannya.

"Memang awal Januari 2020 itu sempat pembukaan PON akan dibuat setara Asian Games. Itu niatnya dulu. Tapi kemudian Maret (2020) kita kena COVID-19 dan sampai sekarang belum selesai sehingga ada penyesuaian," kata Amali dalam jumpa pers virtual, Jumat (24/9/2021).

"Tapi dengan tidak mengurangi kehikmatan. Tetap meriah tapi tak glamor karena situasi pandemi dan semua protokol tata tertib yang biasa dilakukan dalam setiap pembukaan itu tetap ada," ujarnya.

Sebut saja, janji atlet, penyalaan obor, hingga parade atlet tetap dilakukan seperti kebiasaan pembukaan multievent.

"Hanya memang disesuaikan. Seperti penyesuaian untuk kontingen yang akan defile. Kalau dulu menurunkan semua kan boleh, sekarang dibatasi. Saya lupa angka persisnya, tapi ada kuotanya. Bagi yang 100 hanya boleh berapa? Jadi dilihat benar perbedaannya saat pandemi," Menpora asal Gorontalo itu menjelaskan.

"Biasanya jika dalam keadaan normal, setiap kontingen dibebaskan mau menurunkan berapa atlet di parade, karena semakin panjang kontingennya semakin bagus, tapi sekarang dibatasi," imbuhnya.

Sehubungan dengan itu, politikus Golkar ini juga menegaskan setiap atlet, ofisial yang ikut dalam pembukaan tetap melalui protokol kesehatan yang sangat ketat.

"Kami tak mau ambil risiko juga. Jika nanti muncul satu dua (kedapatan positif Corona), ya kami sudah berusaha agar tidak terjadi klaster baru karena sudah ada antisipasi dan tracing," kata Amali.

(mcy/aff)