Pernah Jadi Kebanggaan, Begini Nasib Stadion Palaran Eks PON Kaltim

Mercy Raya - Sport
Rabu, 06 Okt 2021 19:00 WIB
Proyek pembangunan stadion secara besar-besaran terjadi di sejumlah daerah di Indonesia. Namun, diantaranya justru mangkrak dan terbengkalai. Stadion mana saja?
Stadion Palaran, bekas venue PON yang terlantar. (Foto: Istimewa)
Jakarta -

Hampir 13 tahun perhelatan Pekan Olahraga Nasional (PON) Kalimantan Timur berlalu. Namun, nasib sejumlah venue yang digunakan untuk pesta olahraga tertinggi di Indonesia masih menyisakan kisah miris.

Kompleks Olahraga Palaran, Samarinda, misalnya. Kompleks olahraga yang dilengkapi sejumlah venue olahraga mulai dari stadion utama, gedung olahraga bulutangkis, lapangan tenis, stadion akuatik, bisbol, panjat tebing, hingga sirkuit sepatu roda ini kini kian minim aktivitas.

Padahal sebelumnya kompleks olahraga tersebut pernah menjadi kebanggaan masyarakat Kalimantan Timur, khususnya Samarinda karena kemegahannya yang nyaris menyaingi Stadion Utama Gelora Bung Karno di Jakarta.

Bagaimanapun Kompleks Stadion Palaran ini menjadi sejarah bagi perkembangan olahraga nasional pada masanya. Saat itu, stadion yang dibangun dengan anggaran Rp 3 triliun itu untuk kali pertama digelarnya multicabang olahraga di luar Pulau Jawa.

Tapi setelah PON 2008, sayangnya venue itu minim pemanfaatan. Sejumlah fasilitas bahkan disebut-sebut terbengkalai lantaran nyaris tidak adanya kegiatan-kegiatan olahraga nasional maupun internasional yang sebelumnya sempat diharapkan ketika kompleks olahraga itu dibangun.

Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga provinsi Kalimantan Timur, Agus Tianur, tak setuju jika Stadion Palaran disebut terbengkalai sekalipun secara fungsional kurang maksimal. Sebab, venue-venue itu sebenarnya masih digunakan pelajar-pelajar Sekolah Keolahragaan (SKO). "Pemerintah provinsi membangun sekolah khusus olahraga enam tujuh tahun lalu jadi mereka lah yang memanfaatkan itu," kata Agus saat dikonfirmasi detikSport, Rabu (6/10/2021).

Memang, sebut Agus, sepintas tampak dari luar kompleks Palaran terlihat sepi. Tapi itu karena lokasinya yang terlalu jauh dari pemukiman penduduk sehingga untuk kepentingan aktivitas olahraga seperti stadion-stadion pada umumnya tidak menjadi pilihan masyarakat. Belum lagi ditambah pandemi COVID-19 yang membuat kegiatan olahraga kian terbatas.

"Tanpa adanya aktivitas secara otomatis perawatan yang kami lakukan juga tidak maksimal. Bagaimanapun pembiayaan menjadi kendala kami yang paling berat. Tapi toh kalau diperbaiki secara maksimal supaya fungsional, tidak ada korelasi juga sebab lokasinya yang jauh. Serba salah juga. Jika kami maksimal merawat lalu siapa juga yang akan menggunakan?" tuturnya.

"Kendala kedua, lomba-lomba event nasional internasional tak (digelar) di sini. Beda jika pemerintah pusat mau melakukan kegiatan olahraga internasional ya kami terbuka. Seperti Asian Games di Palembang misalnya. Kalau sifatnya kejuaraan daerah ya kita (masyarakat) masih punya pilihan di kota. Orang pasti memilih (stadion) di kota ketimbang Palaran, walau di sini tempatnya besar, tapi enggak ada yang nonton karena (lokasi) yang jauh."

"Sebenarnya menyayangkan juga. Semestinya pemerintah pusat juga melirik tempat ini untuk dijadikan tempat alternative kejuaraan-kejuaraan multievent internasional di Indonesia. Tapi ini kan bukan masalah di Kaltim saja, provinsi lain yang kebagian tuan rumah (PON) juga pernah mengalami yang sama."

Sehubungan dengan perawatan, Agus mengatakan sejauh ini anggaran Dispora masih dapat menanggung, karena biaya itu tidak hanya untuk Stadion Palaran saja tapi venue-venue olahraga lainnya.

Kompleks Olahraga Sempaja Lebih Terawat

Dibandingkan Kompleks Olahraga Palaran, stadion Sempaja disebut jauh lebih baik dan terawat. Hal ini tak lepas dari terlibatnya masyarakat sekitar dalam pemanfaatan gedung olahraga tersebut. "Di sana lebih terawat dan berfungsi dengan baik. Penggunaan masyarakat umum terhadap kompleks olahraga itu hampir hari-hari seperti di Senayan," kata Agus.

"Bahkan, sebelum pandemi ada saja konser musik, pameran-pameran, atau kegiatan lomba. Lalu akhir pekan wisata belanja dengan UMKM di Sempaja," ujarnya.

Kalimantan Timur ke depannya bakal menjadi Ibu Kota Indonesia. Agus berharap pemindahan tersebut bakal ikut memengaruhi kondisi kompleks-kompleks olahraga di daerahnya.

"Optimisme saya komplek stadion utama akan bermanfaat ke depannya. Apalagi pemerintah pusat pusat bakal menjadikan stadion ini sebagai ikon IKN (Ibu Kota Negara) karena jaraknya tak jauh keluar pintu tol. Dengan begitu, harapannya stadion di Kaltim dapat hidup lagi dan fungsional," harap Agus.



Simak Video "Blak-blakan Komjen Boy Rafli Amar, KKB Tak Ganggu PON "
[Gambas:Video 20detik]
(mcy/cas)