Tanpa Emas di PON Papua, Triyaningsih: Bukan Akhir Segalanya

Femi Diah - Sport
Minggu, 10 Okt 2021 15:30 WIB
Pelari DKI Jakarta Triyaningsih finis kedua pada nomor marathon atletik PON XX Papua di kawasan Kuala Kencana, Mimika, Sabtu (9/10/2021). PB PON XX Papua / Rommy Pujianto
Triyaningsih tak berkecil hati gagal raih emas di PON Papua. (Foto: dok.PON/Rommy Pujianto)
Jakarta -

Atlet berpengalaman Triyaningsih untuk kali pertama tidak mendapatkan emas sekeping pun dari perhelatan PON. Dia bilang itu bukan akhir segalanya.

Emas Triyaningsih terhenti di PON XX/2021 Papua. Sejak debut di PON 2004 Palembang, dia selalu selalu menandai multievent olahraga nasional itu dengan kepingan emas. Di PON 2004 Palembang, di PON 2008 Kaltim, dan PON 2012, dia meraih emas dari nomor lari 5.000 m dan 10.000 m, dia berhasil meraih emas dari marathon dan 10.000 m, serta 5.000 m perak.

Di PON Papua, Triyaningsih mendulang dua perak dari lari 5.000 meter dan marathon serta medali perunggu dari nomor lari 10.000 meter. Kali ini, tiga emas di nomor spesialisnya direbut oleh rekan satu tim di DKI Jakarta, Odekta Elvina Naibaho.

Triyaningsih berlapang dada tidak bisa membawa pulang medali emas. Dia tetap bersyukur bisa mendulang medali di bawah bayang-bayang cedera kaki.

"Tetap bersyukur bisa dikasih kesempatan ke PON, bisa berprestasi masuk tiga besar. Bersyukur bisa tetap tampil di PON ini," kata Triyaningsih dalam perbincangan dengan detikSport di Mimika, Papua.

"Selama persiapan panjang yang dijadwalkan DKI Jakarta, persiapan aku memang fluktuatif. Semua atlet memang akrab dengan cedera, tetapi kali ini sangat mengganggu. Di PON ini aku tetap berusaha untuk tampil semaksimal mungkin," dia menambahkan.

Dengan dua perak dan satu perunggu itu Triyaningsih sekaligus mengucapkan perpisahan dengan PON. Bukan soal tidak ingin mendapatkan medali lagi tetapi aturan pembatasan usia di PON harus diterimanya. Peserta PON di atletik dbatasi maksimal berusia 35 tahun.

Kehilangan medali emas di PON tidak cukup membuat Triyaningsih merasa cepat-cepat untuk pensiun dari atletik. Dia bertekad untuk tetap berlari jarak jauh.

"Ini lari jarak jauh, yang membutuhkan ketekunan dan kesabaran, dan selama saya masih bisa mengontrol ketekunan dan kesabaran itu, saya tidak akan berhenti berlari," kata Triyaningsih yang kini berusia 34 tahun itu.

"Hasil PON ini bukan akhir segalanya. saya tidak memberikan batas pensiun. Kalaupun harus berhenti sejenak, aku akan berhenti, tetapi aku akan terus berlari, bukan untuk medali tetapi ini juga untuk kesehatan," dia menjelaskan.

Cari Penerus

Selain Odekta, boleh dibilang belum ada penerus lain Triyaningsih di nomor lari jarak jauh dari DKI Jakarta. Triyaningsih berharap ada pelari remaja yang bisa mengikuti jejak dia dan Odekta.

"Kalau dari DKI belum ada atlet setara Odekta dan Triyaningsih. Yang muda-muda belum kelihatan, kata Wita Witarsa, pelatih atletik DKI yang juga menjadi tukang poles di pelatnas pada nomor jarak jauh.

Triyaningsih bilang berkaca kepada Odekta, yang baru bersinar setelah lulus kuliah, tidak ada kata terlambat untuk menjadi atlet profesional. Dia berharap dengan frekuensi perlombaan open makin tinggi, semakin mudah pula PB PASI memantau bakat. Memang, hasil dari kejuaraan terbuka itu tidak bisa cepat dipanen.

"Melihat Odekta, semua orang punya kesempatan untuk bisa meneruskan prestasi saya dan Odekta," ujar Triyaningsih.

Semakin banyak pelapis dalam satu tim maka akan semakin mudah pula mendapatkan sparring partner. Seperti di Amerika Serikat (AS) satu tim memiliki banyak atlet di satu nomor," Triyaningsih menjelaskan.

"Proses bikin atlet itu panjang, enggak ada yang instan. Ayo semua stake holder, dari PASI sampai kami atlet bersama-sama untuk menciptakan atlet sebanyak-banyaknya," ujar Triyaningsih.



Simak Video "Freeport Libatkan UMKM Meriahkan PON XX Papua"
[Gambas:Video 20detik]
(cas/cas)