Lari Estafet 4x100 M Putra: Jatim Sambar Emas, Zohri dkk Perunggu

Femi Diah - Sport
Rabu, 13 Okt 2021 18:05 WIB
Jatim Emas Lari PON Papua
Foto: (dok Jatim/Istimewa)
Timika -

Jawa Timur putra membuat kejutan di lari estafet 4x100 meter putra PON XX/2021 Papua. Mochammad Bisma Diwa dkk berhasil meraih medali emas mengandalkan atlet muda.

Dalam pertandingan di Stadion Atletik, Mimika Sport Complex, Rabu (13/10/2021), Jatim yang menurunkan Bisma sebagai pelari pertama, kemudian Geraldo Yehezkie di pelari kedua, serta Muhammad Rozikin sebagai pelari ketiga, dan Yudi Dwi Nugroho sebagai pelari keempat, finis terdepan. Mereka membukukan waktu 40,22 detik untuk mencapai garis finis.

Perak menjadi milik DKI Jakarta. Tim ibu kota menurunkan secara beruntun pelari pertama hingga keempat Wahyu Setiawan, Bayu Kertanegara, Dedi Prawira, dan Raushans Alghiff membukukan waktu 40,26 detik.

Sementara itu, perunggu disabet oleh Nusa Tenggara Barat (NTB) yang diperkuat Lalu Mohammad Zohri dkk. Zohri turun sebagai pelari kedua dalam perlombaan itu. Pelari pertama dipercayakan kepada Sapwaturrahman, kemudian pelari ketiga dan keempat adalah Fadlin dan Iswandi.

Sudirman Hadi, yang meraih medali perak di nomor lari 100 meter putra PON Papua, tidak dapat diturunkan. Dia dibekap cedera.

"Untuk lari estafet 4x100 meter putra ini, yang saya perhitungkan sejak awal adalah NTB. Dan, saya selalu berpesan kepada anak-anak agar jangan lihat Lalu-nya (Zohri), tetapi kami yang memiliki tim merata, pasti menang!" kata Henny Maspaitella, pelatih lari jarak pendek Jatim di Mimika.

"Walaupun Sudirman main tidak masalah. Mereka cuma mengandalkan Lalu, buktinya di pelari ketiga dan keempat kami bisa mengejar. Pelari kedua kita masih muda. Saat tampil di nomor lari 200 meter dia finis keempat dan itu best time-nya. Itu modal bagus buat kami tampil di lari estafet ini," Henny menjelaskan.

Pelari kedua Jatim, Geraldo, puas dengan pencapaian mereka. Apalagi, ini merupakan debutnya di PON.

"Percaya diri penuh, fokus sama teman, rasakan aura teman mau sampai ke saya, dan setelah itu lari sekencang-kencangnya. Sempat gugup pasti, justru itu yang wajar. Gugup karena karena atmosfer PON, ini pertama ikut PON dan sama-sama menjadi pelari kedua seperti Zohri," kata Geraldo.

Geraldo menyebut sukses itu merupakan keberhasilan tim. "Makna emas buat saya, emas ini adalah perjuangan sama-sama. Hasil dari perjuangan kami bersama-sama," dia menegaskan.

Sementara itu, pelatih lari jarak pendek DKI Jakarta Enny Nuraeni berlapang dada dengan hasil perak. Dia memang memprediksi Jatim putra menjadi pesaing terberat, sedangkan NTB memiliki kekuatan timpang.

"Ya memang timnya baru segitu. Pelatih ketiga dan keempat kami (Deddy dan Raushan) atlet baru. Semuanya baru di PON. Yang satu sudah tampil di Asian Games, pelari kedua (Bayu), nah yang PON itu semua baru," Enny menjelaskan.

"Tim NTB kehilangan satu pelari andalan yang cedera. Pelari pertama Sapwaturrahman adalah atlet lompat jauh. MEreka sulit untuk mendapatkan medali emas," dia menambahkan.

(fem/aff)