PON Papua: Atletik DKI Jakarta Gagal Penuhi Target, Krisis Atlet?

Femi Diah - Sport
Jumat, 15 Okt 2021 18:10 WIB
Atjong Tio Purwanto (baju kuning nomor 126) pelari asal Jawa Timur meraih medali emas nomor 3.000 meter Halang Rintang Putra pada PON XX Papua 2021 di Stadion Atletik Mimika Sport Center, Kabupaten Mimika, Papua, Kamis (14/10/2021). 
Atjong Tio Purwanto finis di urutan pertama dengan catatan waktu 9:07.59

(Foto: PB PON XX PAPUA 2021/Peksi Cahyo)
Ilustrasi atletik PON Papua (Peksi Cahyo/PON)
Jakarta -

Pengprov PASI DKI Jakarta gagal memenuhi target medali emas di PON XX/2021 Papua. Dari delapan yang diharapkan, Emilia Nova dkk mengantongi enam keping emas.

Dengan koleksi enam emas, lima perak, dan delapan perunggu, DKI menjadi runner-up cabang olahraga atletik di PON Papua. Juara umum direbut Jawa Barat (Jabar) yang mendapatkan 11 emas dan lima perak.

Koleksi emas DKI itu jauh di bawah raihan di PON Jabar lima tahun lalu. Waktu itu, DKI mendapatkan 15 medali emas. Bahkan, angka itu tidak memenuhi target delapan emas.

Ketua Umum Pengprov PASI DKI Jakarta Mustara menyebut lepasnya dua emas dari DKI itu semata-mata karena kalah hoki. Dua emas yang diharapkan bisa diraih namun lepas itu ada di nomor loncat tinggi galah putra atas nama Federick Saputra. Dia mendapatkan perak, dikalahkan wakil Jawa Timur Teuku Tegar Abadi.

Satu emas lain yang lepas adalah dari Nadia Anggraini yang tampil di nomor loncat tinggi putri. Nadia meraih perunggu. Dia mentas dengan kondisi hamil 11 bulan.

"Dari target delapan medali emas, kami mendapatkan enam medali emas. Ada dua nomor yang meleset, yakni loncat tinggi galah putra dan loncat tinggi putri," kata Mustara dalam perbincangan dengan detikSport.

"Kalau melihat loncat tinggi galah persaingan ketat dan Jawa Timur lebih beruntung, dua atlet ini di setiap sesi latihan saling mengungguli, sama-sama latihan bersama di Senayan. Sementara itu, kondisi kesehatan Nadia kurang baik," Mustara menambahkan.

Mustara mengakui skuad atletik yang dibawa DKI di PON Papua tidak sekinclong pada PON Jabar. Waktu itu, DKI memiliki sederet atlet senior seperti Dedeh Erawati, Rini Budiarti, dan Rose Herlinda. Mustara bilang mereka tidak bisa tampil di PON lagi karena aturan pembatasan usia di atletik di PON, yakni 35 tahun.

"Sebaliknya, Jabar diuntungkan dengan menjadi tuan rumah PON 2016, juga kompetisi Jabar lebih baik dengan mereka memiliki Porda setiap dua tahun sekali," kata Mustara.

Kendati perolehan emas anjlok dibandingkan PON 2016 dan tidak memenuhi target, Mustara menyebut DKI belum mengalami krisis atlet. Justru, saat ini muncul atlet muda yang perlu dipoles di kejuaraan.

"Enggak, bukan krisis atlet, sebab hampir di setiap nomor punya pelapis, tetapi lapis kita masih junior. Kami memiliki PPLP, POPB, PPLM, ada pelapisan di situ," ujar Mustara.

"Tetapi, bagaimanapun hasil ini menjadi catatan penting untuk atletik Jakarta. Sepulang dari Timika, kami akan melakukan evaluasi total dan menyiapkan kejuaraan, pembinaan selanjutnya," Mustara menambahkan.

(fem/aff)