Para Tenis Meja RI Target 2 Medali di Asian Para Youth Games 2021

Mercy Raya - Sport
Kamis, 02 Des 2021 11:39 WIB
Para Tenis Meja
Para Tenis Meja mengungkap target di Asian Para Youth Game 2021. (Foto: dok. NPC Indonesia
Jakarta -

Para tenis meja Indonesia membeberkan target yang dicanangkan di Asian Para Youth Games (APYG) 2021 di Manama, Bahrain. Mereka mematok dua medali.

Untuk berlaga di APYG yang dimulai, Kamis (2/12/2021) hingga Senin (6/12), kontingen Indonesia mengirimkan tujuh atlet para tenis meja dan seluruhnya sudah lolos klasifikasi.

Rinciannya, lima atlet merupakan debutan di pentas internasional, yakni Rifki Mamunudin akan tampil di TT8, Muhammad Dicky Ferdiansyah (TT10), Cici Juliani (TT10), Siti Fadhillah (TT7) dan Imas Yuniar di TT9.

Sedangkan dua atlet di antaranya sudah pernah berlaga di AYPG 2017 di Dubai. Mereka ialah Faisatul Iksan dan Hilmi Azizi yang mampu meraih medali perunggu di nomor beregu putra TT9 serta satu perunggu dari Faisatul di tunggal putra TT9.

Melihat prestasi tersebut, pelatih para tenis meja Indonesia, Dhiki Agtri Dwi Santoso, berharap Faisatul dan Hilmi, bisa meningkatkan prestasi mereka di perhelatan AYPG 2021.

"Saya berharap Faisatul dan Hilmi bisa menyumbang medali bagi Indonesia. Sementara itu bagi atlet yang baru pertama kali ikut AYPG, ajang ini menjadi salah satu sarana bagi mereka untuk merasakan atmosfer pertandingan di level internasional," kata Dhiki dalam rilis NPC Indonesia.

Mewujudkan target itu, kontingen para tenis meja Indonesia terus melakukan pemantapan latihan, setelah selama dua hari atlet para tenis meja Indonesia beradaptasi dengan cuaca di Bahrain.

Diketahui, saat kontingen tiba di Manama pada Jumat (26/11), beberapa atlet sedikit terkendala dengan cuaca di Bahrain, selain perbedaan waktu empat jam antara Manama dengan Solo juga mempengaruhi jam istirahat atlet.

"Saat tiba di Bahrain, atlet harus membutuhkan waktu sekitar dua hari untuk beradaptasi dengan suhu di sini. Selain itu mereka juga harus menyesuaikan dengan jam tidur pada waktu malam hari karena perbedaan waktu antara Bahrain dengan Indonesia cukup jauh," Dhiki mengungkapkan.

"Untuk itu, supaya atlet bisa cepat istirahat dan bisa bangun di pagi hari, kami akhirnya mewajibkan setiap atlet harus tidur pada jam sembilan malam supaya bisa bangun pagi untuk shalat subuh. Setelah itu mereka mempersiapkan diri untuk latihan," katanya.

(mcy/cas)