ADVERTISEMENT

Polemik Bonus Atlet DKI Jakarta di PON Papua

Tim Detikcom - Sport
Selasa, 21 Des 2021 00:44 WIB
Pelari DKI Jakarta, Odekta Elvina Naibaho saat berlomba di nomor Marathon 42 km Putri PON XX Papua di area Kuala Kencana Mimika, Sabtu (9/10/2021). (Foto : PB PON XX Papua / Ady Sesotya)
Odekta Naibaho mengeluhkan bonus PON Papua 2020 dari KONI DKI Jakarta (PB PON XX Papua / Ady Sesotya)
Jakarta -

PON Papua 2020 sudah lewat dua bulan, tapi masih ada saja persoalan yang mengganjal. Salah satunya terkait polemik bonus di kontingen DKI Jakarta.

Setelah tertunda akibat pandemi Covid-19 ajang empat tahunan itu pada akhirnya bisa terlaksana dengan mulus sedari 2-15 Oktober;

PON adalah merupakan pesta bagi para atlet Indonesia untuk saling membuktikan kemampuannya sebelum masuk ke tingkat internasional. Mereka tidak cuma bersaing untuk mengharumkan nama pribadi, tapi juga daerah masing-masing.

Jawa Barat kembali tersenyum lebar karena mampu mempertahankan predikat juara umum dengan 133 emas, disusul DKI Jakarta dengan 111 emas, dan Jawa Timur dengan 110 emas.

Di balik kemeriahan PON, selalu saja terselip masalah dan paling ketara adalah soal dana. Hal ini pula yang dirasakan oleh para atlet Jakarta yang sudah memberikan prestasi, tapi tidak dihargai secara layak terkait bonus.

Pada PON 2016, atlet Jakarta menerima bonus sebesar Rp 200 juta (medali emas), Rp 75 juta (medali perak), dan Rp 30 juta (medali perunggu). Sementara pada PON 2020, jumlah bonus yang diterima para peraih medali sedikit turun, yakni di medali perak yakni Rp 50 juta. Sementara untuk emas dan perunggu tetap sama.

Salah satu yang menyuarakan kekecewaan itu adalah pelari Odekta Elvina Naibaho yang meraih emas di 5.000 meter, 1.0000 meter, dan maraton. Dia menilai bonus pelatih terlalu kecil.

"Satu kata untuk pemberian bonus atlet dan pelatih DKI Jakarta ini yaitu kecewa. Hidup atlet dari jaman dulu dan sekarang hampir sama. Hanya beda kemasan, tetapi isinya sama," ujar Odekta dalam rilis kepada detikSport.

"Nilai jumlah bonus atlet dan pelatih juga terlalu jauh. pelatih hanya mendapat apresiasi medali emas 60 jt, perak 30 jt dan perunggu 20 jt. MIRISSSS... TEGA... atlet dan pelatih sama-sama bersinergi saling mendukung satu sama lain untuk mencapai hasil optimal. Namun perbedaannya begitu sangat direndahkan. Minta tolong para pejabat terhormat untuk dikaji dan di pertimbangkan kembali," sambungnya.

Simak juga Video: Pemkab Ciamis Beri Uang ke 13 Atlet Jabar Berprestasi di PON Papua

[Gambas:Video 20detik]



Kekecewaan serupa diutarakan Atlet loncat Indah Adityo Restu Putra yang membandingkan bonus dari KONI DKI dengan daerah lainnya. Maka itu dia meminta kebijaksanaan Gubernur Jakarta Anies Baswedan.

Belum lagi pajak yang yang harus ditanggung atlet begitu besar. Padahal seharusnya pemerintah daerah bisa membebaskan pajak sebagai apresiasi.

"Mohon dengan hormat kepada Bapak Gubernur DKI Jakarta, bapak Anies Baswedan tolong di tinjau kembali untuk besaran bonus nya. Kenapa dri PON tahun 2012 tidak ada peningkatan atau kenaikan nominal bonus? Sedangkan daerah-daerah lain saja bisa untuk menaikkan nominal bonus PON untuk atlet dan pelatihnya, kenapa kita sendiri ibu kota tidak bisa untuk menaikkan nominal bonus untuk PON," tutur Adityo.

Atlet loncat indah Indonesia Tri Anggoro Priambodo (kiri) dan Adityo Restu Putra melakukan loncatan dalam nomor loncat indah papan tiga meter sinkronisasi putra SEA Games XXIX di National Aquatic Centre, Bukit Jalil, Kuala Lumpur, Malaysia, Selasa (29/8). Atlet loncat indah Indonesia memperoleh perunggu dengan mengumpulkan poin 326,40. ANTARA FOTO/Wahyu Putro A/kye/17Atlet renang DKI Jakarta Adityo Restu Putra (kanan) (Foto: Wahyu Putro A/Antara Foto)

"Dan terlebih untuk pajak nya kenapa besar sekali? Pajak saya sendiri Rp 245 jt, itu bukan nominal yg kecil untuk saya. Dan setahu saya Pajak itu tidak ditanggung oleh Atlet dan Pelatih," keluh Adityo.

Walaupun dikecewakan, atlet-atlet Jakarta itu tetap memberikan semangat kepada para yuniornya agar selalu fokus jika ingin berprestasi.

Pelari gawang DKI Jakarta Emilia Nova (045) melakukan selebrasi seusai finish pertama pada final 100 meter lari gawang PON XX Papua di Stadion Atletik, Mimika Sport Complex, Selasa (5/10/2021). PB PON XX Papua / Rommy PujiantoPelari gawang DKI Jakarta Emilia Nova melakukan selebrasi seusai finis di cabor atletik PON Papua 2020 (Foto: Dok. PB PON XX Papua / Rommy Pujianto)

"Jangan memutus semangat para pejuang pelaku olahraga, sama halnya dengan memutus rantai regenerasi atlet dan penerus olahraga berikutnya," harap Odekta.

"Kecewa memang dengan apresiasi dari DKI Jakarta, tetapi semoga ke depan bisa lebih baik lagi," ujar pelari gawang DKI Jakarta Emilia Nova.

(mrp/rin)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT