Kabar Terbaru soal Sanksi Badan Anti Doping Dunia terhadap Indonesia

Mercy Raya - Sport
Selasa, 11 Jan 2022 15:10 WIB
The World Anti-Doping Agency or WADA logo is pictured at the Russkaya Zima (Russian Winter) Athletics competition in Moscow on February 9, 2020. - The entire board of Russias athletics federation has resigned as the government attempts to find a way out of the countrys deepening doping crisis before this years Olympic Games. (Photo by Kirill KUDRYAVTSEV / AFP)
Foto: AFP/KIRILL KUDRYAVTSEV
Jakarta -

Dalam kaitan dengan sanksi Badan Anti-Doping Dunia (WADA), Lembaga Anti-Doping Indonesia (LADI) tengah fokus menyelesaikan test distribution plan (TDP) 2022. Tujuannya agar peninjauan sanksi dapat dilakukan di kuartal pertama tahun ini.

Wakil Ketua LADI Rheza Maulana mengatakan TDP tahun ini berbeda dari biasanya. Berdasarkan asistensi Asosiasi Anti-Doping Jepang (JADA) terhadap LADI, TDP bukan sekadar perencanaan in competition testing (ICT) dan out of competition testing (OCT) semata, tetapi juga mencakup risk assessment hingga Technical Document for Sport Specific Analysis (TDSSA).

"Kami tengah merampungkan TDP 2022 sesuai standarisasi WADA. Kami aktif berkomunikasi ke federasi olahraga nasional untuk menanyakan informasi seperti siapa atlet elite di level internasional, nasional, hingga regional. Peringkat ranking mereka, termasuk rencana pelatnas cabang olahraga tersebut," kata Rheza, dalam rilis yang diterima detikSport.

Adapun koordinasi dilakukan untuk 17 federasi olahraga nasional dengan penentuan yang merujuk pada cabang olahraga yang telah ditetapkan WADA, di antaranya, atletik, renang, senam, bulu tangkis, angkat besi, balap sepeda, dan panjat tebing.

"Jadi memang tidak semuanya, tetapi lebih ke cabang olahraga yang dikategorikan memerlukan endurance. Data-data yang diminta sangat terperinci, seperti risiko atlet (mengonsumsi suplemen) hingga riwayat atlet itu sendiri. Selama ini LADI belum pernah menyerahkan TDP dengan formula detail seperti ini," dia menjelaskan.

Ia optimistis peninjauan sanksi WADA terhadap LADI dapat dilakukan di kuartal pertama tahun ini. Terlebih mayoritas pending matters sudah berhasil dirampungkan LADI. Bahkan, kata Rheza, LADI juga sudah berperan aktif melaksanakan fungsi dan tugasnya sebagai NADO, baik secara internal dan eksternal.

"Kami berusaha berbenah. TDP 2021 sudah kami penuhi. Fungsi testing eksternal untuk melayani Federasi Olahraga Internasional juga kami lakukan, seperti misalnya saat event Badminton Festival di Bali. BWF berkerja sama dengan kami, dan kami sudah melakukan tugas dengan sebagaimana mestinya," ujar Rheza.

"Dengan melihat progres tersebut, kami yakin kuartal awal tahun ini sudah bisa direview. Meski TDP ini masih dikerjakan, tetapi ini sifatnya dinamis karena bisa diubah, seperti misalnya jika atlet sakit atau hal-hal lainnya."

Tak cuma itu, Indonesia melalui Gugus Tugas juga telah aktif membangun komunikasi dua arah. Rencananya, ujar Rheza, JADA berencana berkunjung ke Indonesia pada Maret atau April. Selain itu, Organisasi Anti-Doping Regional Asia Tenggara (SEARADO) terbuka memberi pelatihan kepada LADI, baik yang berkaitan dengan testing, edukasi, Anti-Doping Administration and Management System (ADAMS) dan mekanisme pelatihan lainnya.

Terpisah, Ketua Gugus Tugas Percepatan dan Penyelesaian Sanksi WADA, Raja Sapta Oktohari, menjelaskan semua upaya yang dilakukan Gugus Tugas dan LADI bukan hanya sebatas pembebasan sanksi WADA, tetapi juga untuk menciptakan lembaga anti-doping Indonesia menjadi lebih independen, profesional, dan modern.

"Saya sudah selalu tekankan, bahwa jika sekadar memperbaiki mobil rusak itu percuma. Kita harus membangun LADI sebagaimana mobil Formula 1, sehingga memang harus mengikuti blueprint dari WADA. Ini yang tengah kami kerjakan bersama-sama, sehingga saya mendesak terus agar TDP ini bisa segera rampung, sehingga sanksi WADA terhadap LADI ini bisa segera direview," ujar Okto.

(mcy/krs)