Usulan Karantina Bubble buat Atlet dari Luar Negeri, Termasuk MotoGP?

Mercy Raya - Sport
Selasa, 18 Jan 2022 19:49 WIB
Raja Sapta Oktohari
Ketua KOI, Raja Sapta Oktohari, menungkap saran ke Menpora Zainudin Amali soal sistem bubble untuk pelaku olahraga dari luar negeri. (Foto: dok.NOC Indonesia)
Jakarta -

Komite Olimpiade Indonesia (KOI) mengusulkan kepada pemerintah agar dapat memberikan kebijakan terkait diskresi karantina terhadap pelaku olahraga yang datang dari luar negeri.

Hal itu disampaikan Ketua Komite Olimpiade Indonesia (KOI) Raja Sapta Oktohari usai bertemu Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), Senin (17/01). Pihaknya juga telah menyampaikan kepada Menpora Zainudin Amali secara resmi melalui surat bernomor 1.12.3/NOC-INA/PRE/2022 yang ditandatangani Okto pada 12 Januari.

Surat berisi tentang tindak biosecurity pencegahan penyebaran COVID-19 di Indonesia pada penyelenggaraan event olahraga Internasional di Indonesia serta keikutsertaan atlet-atlet Indonesia di setiap event olahraga Internasional.

Menurutnya, kebijakan tersebut penting karena keterbatasan akses latihan selama karantina panjang memengaruhi stamina dan peforma para atlet.

"KOI melihat masa karantina sangat berdampak terhadap kebugaran atlet. Kami menerima masukan dari national federation yang sempat menjalani karantina, akses mereka terbatas dan tidak bisa berlatih optimal. Selain karena tidak boleh keluar kamar, belum tentu di hotel karantina memiliki fasilitas latihan," kata Okto dalam keterangan tertulisnya Selasa (18/1/2022).

Okto menyebut karantina dengan sistem bubble, atau gelembung, di Indonesia Badminton Festival pada akhir tahun lalu dapat menjadi contoh solusi karantina atlet sepulang pertandingan dari luar negeri.

"Jadi mereka tetap karantina, tetapi mungkin dengan sistem bubble. Jadi atlet yang baru pulang dari pertandingan di luar negeri mereka bisa berlatih untuk menjaga kebugarannya karena tidak mungkin atlet tidak latihan berhari-hari," ujarnya.

"Diskresi karantina juga dibutuhkan bagi pelaku olahraga yang akan terlibat di event internasional, baik atlet, pelatih, official. Baik secara persiapan, maupun ketika games times. Kondisi tersebut juga memerlukan diskresi. Alhamdullilah Menpora menyambut baik usulan kami."

Tahun ini, Indonesia memiliki agenda olahraga yang padat, baik single event seperti Piala Davis, MotoGP, IESF 14th Esports World Championships, salah satu seri Piala Dunia Panjat Tebing, serta turnamen bulu tangkis yang telah masuk kalender BWF seperti Indonesia Master dan Indonesia Open.

Sedangkan untuk multi event, Indonesia rencananya mengikuti lima agenda yaitu SEA Games Hanoi (12-23 Mei), Children of Asia (27 Juli-8 Agustus), Islamic Solidarity Games Konya (9-18 Agustus), Asian Games Hangzhou (10-25 September), serta Asian Youth Games Shantou (20-28 Desember). Ada pula rencana Indonesia untuk menjadi tuan rumah ASEAN Para Games 2022 serta ANOC World Beach Games 2023.

Menpora Zainudin Amali menerima usulan KOI. Kemenpora, katanya, dalam waktu dekat berencana memfasilitasi pertemuan KOI dengan BNPB dan Kementerian Kesehatan untuk mendiskusikan masalah tersebut.

"Kami mengerti apa yang disampaikan Komite Olimpiade Indonesia. Kami akan mengatur pertemuan untuk membicarakan hal ini lebih lanjut," kata Menpora Zainudin.

(mcy/cas)